Fb. In. Tw.

Tokyo Godfathers, Keajaiban Natal dan Kehangatan Keluarga di Tengah Sumpeknya Kota

Kisah bermula pada suatu malam natal di tengah seluk-semeluk ramainya kota Tokyo. Sementara kota adalah kota, tempat orang-orang dengan nasib baik-sebaik-baiknya atau buruk-seburuk-buruknya bertemu dan berbaur. Malam natal dalam kisah ini menyoroti golongan kota yang terakhir disebut, tepatnya sekelompok gelandangan yang harus menanggung nasib buruknya masing-masing. 

Bagi para gelandangan di kota Tokyo, kehadiran natal berarti juga kesempatan menghadiri acara derma sosial untuk mendapatkan makanan gratis. Hal itu pulalah yang dilakukan oleh Gin, seorang lelaki paruh baya alkoholik, dan Hana, transpuan mantan penampil di sebuah klub waria. Ketika pembagian makanan, Hana meminta porsi lebih, ia beralasan harus makan untuk dua orang. Tentu saja porsi tambahan itu bukan untuk jabang bayi di rahimnya yang tak pernah ada, meski ia berharap demikian. Porsi tambahan itu diperuntukkan kepada Miyuki, seorang gadis pelarian yang kabur dari rumahnya.

Dalam kegelandangannya, Gin, Hana, dan Miyuki secara ganjil menjalani hidup bersama, sekalipun mereka memiliki latar belakang yang jauh berbeda. Tidak terkecuali pada malam natal itu, sehabis menghabiskan makanan, mereka bersama-sama mengais tempat pembuangan untuk mencari “kado natal”. Tanpa terduga, di tempat pembuangan itu mereka mendapati seorang bayi perempuan yang ditelantarkan. Bayi tersebut sekaligus menjadi motif utama narasi Tokyo Godfathers.

Tokyo Godfathers merupakan anime garapan Satoshi Kon yang pertama kali dirilis pada tahun 2003. Berbeda dengan karya Satoshi Kon populer lain yang cenderung surreal, misalnya Perfect Blue (1997), Millenium Actress (2001), dan Paprika (2006), Tokyo Godfathers justru berlandas pada realisme, tanpa adanya pengaburan antara mimpi dan kenyataan. Secara garis besar, anime ini mencoba untuk mendekonstruksi ulang arti keluarga di tengah berbagai kebetulan yang datang secara silih berganti.

Satoshi Kon membungkus unsur tragis yang mendasari narasi Tokyo Godfathers dengan balutan komedi yang sangat kental. Anime ini memiliki style gambar tegas dan komikal, serta gerak animasi tokoh yang ekspresif. Selain itu, latar kota pun tergambar secara sangat mendetail. Semua hal tersebut membuat penonton bisa memperhatikan dan menikmati banyak hal selagi mengikuti jalannya narasi yang penuh suspensi.

 

Melihat Kota dari Dekat
Kota merupakan panggung besar konsumerisme, di mana setiap sudut penuh dengan papan reklame yang menampilkan produk-produk komersial. Papan-papan reklame tersebut ditempatkan di sudut khusus yang dilengkapi dengan lampu sorot, selayaknya tokoh utama dalam sebuah teater. Sehingga pada setiap waktu, baik siang maupun malam, masyarakat tidak bisa mengalihkan pandang barang sejenak pun dari produk-produk yang disuguhkan pada papan-papan tersebut.

Aktivitas jual beli memang tak bisa terhindarkan bagi masyarakat pada umumnya, terutama bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar. Produk-produk komersial seolah menjadi roda gigi yang harus berputar agar bisa terus menggerakan kehidupan kota. Namun aktivitas jual beli ini terkadang direka secara masif dan serampangan, sehingga hal ini membuat masyarakat sebagai konsumen tidak lagi mengetahui pasti produk apa yang sebenarnya mereka butuhkan.

Secara sadar maupun tidak sadar, masyarakat dibuat menjadi ketergantungan untuk membeli segala produk yang dapat mereka beli. Dampak buruknya, kota juga menjadi sebuah tempat pembuangan besar produk-produk yang tidak lagi terpakai. Meskipun tidak sedikit produk-produk yang harus terbuang begitu saja itu sebenarnya masih bisa difungsikan dengan baik. Sementara bagi para produsen, setidaknya tugas mereka selesai ketika sebuah produk sudah sampai ke tangan konsumen. Selanjutnya, produsen terus melakukan berbagai inovasi baru agar produk lainnya ikut terjual.

Gambaran tentang kota tersebut barangkali terdengar stereotipikal, tetapi bisa dilihat bahwa “sampah” dari berbagai produk yang bertimbun adalah salah satu persoalan yang menjadi pekerjaan rumah utama di banyak kota besar. Panggung besar kota dengan segala laku konsumersimenya inilah yang hadir sebagai latar dalam anime Tokyo Godfathers.

Pada banyak scene, anime ini menampilkan reklame-reklame untuk berbagai motif. Bahkan pada bagian pembuka, credit title pun terpampang selayaknya produk komersial yang dijajakan pada papan-papan pinggir jalan atau bagian samping bus yang kebetulan melintas. Tidak hanya itu, reklame-reklame tersebut terus bertebaran pada scene lain hingga anime berakhir, mulai dari papan megah di atas gedung yang lengkap dengan lampu sorot, hingga papan bekas yang difungsikan untuk fondasi tempat tinggal semipermanen para tokohnya.

Dalam anime ini, kehadiran natal pun turut menghadirkan kesan tersendiri di tengah sumpeknya kota Tokyo yang penuh dengan reklame di sana sini. Natal tidak hanya hadir sebagai momen untuk melakukan praktik-praktik keagamaan kristiani semata, akan tetapi melakukan perayaan yang lebih umum. Terkait persoalan ini, masyarakat Jepang dikenal dengan paham sinkretismenya. Atas dasar itulah, anime ini menampilkan Hana, sebagai seorang tokoh yang secara bersamaan mengamini khotbah biblikal sekaligus memanjatkan doa kepada dewa di sebuah kuil.

Meskipun begitu, natal tetap menjadi sebuah momen yang bisa memberikan kebahagiaan, kehangatan, dan keajaiban kepada siapa pun tanpa terkecuali, bahkan kepada para kaum gelandangan yang tidak menganut kepercayaan kristen secara utuh sekali pun. Tidak hanya bagi Hana, Gin dan Miyuki yang cenderung skeptis dengan keagamaan juga akhirnya berkesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan dan kehangatan yang sama ketika natal tiba.

Tokyo, sama seperti kebanyakan kota kosmopolitan lainnya, merupakan tempat yang memungkinkan berbagai hal untuk bertemu dan berbaur. Selain kepercayaan keagamaan, kota juga memungkinkan berbagai produk-produk kebudayaan dari berbagai tempat bisa berkumpul. Sehingga hadirlah kompleksitas kebudayaan tumpang-tindih yang semakin meramaikan kehidupan kota.

Dalam anime ini, produk-produk kebudayaan hadir sebagai alusi yang mempertegas konteks peristiwa tertentu. Misalnya pada suatu adegan, di tempat pembuangan, Miyuki melempar sebuah buku tepat ke muka Gin karena perdebatan kecil. Hana yang melihat hal itu spontan berkata, “Apa yang kau lakukan kepada Dostoevsky?!”. Benar saja, buku yang dilempar tersebut adalah buku kumpulan karya Fyodor Dostoevsky.  Lucunya, dari sekian banyaknya penulis, justru Dostoevskylah yang karyanya ditemukan di tempat pembuangan. Dostoesky sendiri memang terkenal dengan karya yang cenderung gelap tentang kesengsaraan, kemelaratan, dan keraguan akan kehidupan sosial.

Selain itu, alusi lain juga hadir pada adegan berbeda, yakni ketika ketiga tokoh sedang berjalan kaki tanpa arah tujuan yang pasti. Kala itu, Hana hampir secara random menyanyikan lagu Climb Ev’ry Mountain dari drama musikal Sound of Music (1965). Sederhananya, lagu ini merupakan lagu inspiratif yang mendorong seseorang untuk menggapai mimpinya. Sama seperti ketiga protagonis pada adegan itu. Mereka harus terus melangkah, follow every byway/every path you know. Yah, meskipun ketika itu sebenarnya mereka tidak tahu pasti jalan mana yang harus ditempuh.

Setidaknya, berbagai penggambaran kehidupan masyarakat pinggiran kota dan sempalan-sempalan interteks menjadi sebuah formula naratif yang menambah daya tarik anime ini. Dengan melihat kota dari dekat, di tengah-tengah sumpeknya kota, ternyata hadir orang-orang dengan jalan cerita yang menarik untuk diikuti.

 

Kehangatan Keluarga
Seperti yang telah disebutkan, bahwa ketiga tokoh protagonis dalam Tokyo Godfathers memiliki latar belakang yang jauh berbeda. Nasib malang masing-masing tokoh secara ganjil akhirnya mempersatukan mereka. Dalam kesehariannya, mereka memang tidak selalu akrab, perdebatan serta pertengkaran kerap terjadi. Namun setelah itu, akhirnya mereka disadarkan bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain, bahkan lebih dari yang bisa mereka bayangkan. 

Seorang pria paruh baya alkoholik yang sinis terhadap banyak hal, transpuan berjiwa keibuan yang sentimental, dan seorang gadis tomboi apatis, ketiga tokoh ini sebenarnya menjadi analogi sempurna selayaknya sepasang keluarga normal pada umumnya. Namun pada kenyataannya tidak ada ikatan apa pun di antara mereka. 

Di suatu tempat, sebenarnya Miyuki dan Gin masih memiliki anggota keluarga sungguhan. Sementara Hana harus hidup sebatang kara sedari kecil, seseorang yang dipanggilnya “Ibu” adalah pemilik klub waria tempat ia bekerja sebelumnya. Namun, karena satu-dua alasan, mereka semua memilih untuk menggelandang jauh dari rumah. Seiring berjalannya kisah, terbukalah alasan-alasan yang menyebabkan ketiga tokoh ini menggelandang. Secara garis besar, alasan tersebut bermula dari rasa bersalah mereka kepada keluarga masing-masing.

Penemuan seorang bayi perempuan yang ditelantarkan di tempat pembuangan merupakan kebetulan awal yang memicu ketiga tokoh untuk bisa lebih jujur dengan perasan mereka. Selanjutnya, mereka dituntun oleh kebetulan demi kebetulan lain yang akhirnya mengharuskan mereka untuk bisa menghadapi langsung persoalan yang selama ini mereka pendam sendirian. Bahkan dalam suatu tingkat, kebetulan-kebetulan ini lebih tepat disebut sebagai keajaiban. 

Meski kebersamaan mereka terjadi tanpa ikatan apa pun, akan tetapi dalam berbagai kesempatan, mereka mencoba untuk berperan saling melengkapi selayaknya sebuah keluarga sungguhan. Setidaknya, hal inilah yang mereka butuhkan pada saat itu. Apa yang ketiga tokoh ini butuhkan adalah kehangatan keluarga, terlebih ketika harus melewati dinginnya salju ketika natal tiba.

 

***

 

Tepat 20 tahun yang lalu Tokyo Godfathers pertama kali dirilis. Namun apa yang diangkat dalam anime ini masih terasa dekat dengan kehidupan hari ini, terutama kehidupan masyarakat kota dengan segala kesumpekannya akan konsumerisme dan kosmpolitanisme. Satu dan dua hal besar memang sempat terjadi belakangan, tetapi kota tetaplah kota, tempat yang selalu didatangi oleh banyak orang untuk mengadu nasib dan kesunyiannya masing-masing. Dengan begitu, anime ini masih sangat bisa dinikmati lagi pada tahun ini. Lagi pula, tidak ada yang tahu kebetulan apa yang bisa saja datang ketika kita melewati hari-hari natal di pengujung tahun ini, kebetulan yang mungkin lebih tepat disebut sebagai keajaiban.

 

2023

KOMENTAR

Adhimas Prasetyo, penulis dan pembaca. Buku puisi pertamanya berjudul Sepersekian Jaz dan Kota yang Murung (2020).