Fb. In. Tw.

“STKS Art Festival-Harmony in Diversity”, Menyatukan Miniatur Indonesia dengan Teater

Jauh dari hingar bingar dunia seni pagelaran yang biasanya lahir dari kampus-kampus semisal STSI (kini ISBI), UPI, UIN Bandung, Unpad, Unpas, atau ITB yang sudah dikenal sejak lama sangat lekat dengan dunia kesenian di Bandung. Di pojok Dago sana, tepatnya di Dago Pojok, ada sebuah kampus yang luput dari mata kita para penikmat dunia kesenian di Bandung.

Beberapa waktu lalu, pada kamis, 26 Februari 2015 saya diajak-paksa oleh seorang teman untuk datang ke sebuah acara bertajuk STKS Art Festival-Harmony in Diversity yang diadakan di Taman Budaya Jawa Barat. Padahal sore itu mendung menyelimuti langit Bandung, sebuah sore yang indah untuk berkencan dengan selimut. Sebetulnya jika sebuah pagelaran yang pengisi acaranya tidak saya kenal, pasti rasa malas akan datang dengan sendirinya. Barangkali karena saya seorang teman yang setia, dengan dipaksa juga membawa kamera untuk memotret pagelaran tersebut, akhirnya datang juga.

Multikultur di atas panggung. (Foto: M. Romyan Fauzan)

Multikultur di atas panggung. (Foto: M. Romyan Fauzan)

Selalu ada hal-hal yang membuat kita tertegun tiba-tiba ketika momen hadir dalam waktu yang tak diduga. Itulah yang saya rasakan malam itu. Setelah adzan magrib kemudian saya dan teman berangkat ke tempat pagelaran tersebut. Pada awalnya hanya beberapa kendaraan yang ada di pelataran Taman Budaya. Tak terlihat pula orang-orang yang biasanya berkumpul dan itu-itu saja jika ada sebuah pagelaran budaya apapun. Ini benar-benar sesuatu yang asing karena pagelaran ini lahir dari orang-orang yang berlatar belakang Kedinasan Sosial, Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS).

Acara yang ngaret membuat perut ini ikut ngaret pula, dan saya putuskan untuk memakan baso tahu. Memang tak penting untuk bagian baso tahu itu, tapi entah mengapa saya merasa harus menceritakannya. Kadang orang-orang lupa pada hal-hal yang tak penting. Padahal kita tidak akan paham arti penting jika tidak ada yang tak penting. Yang tadinya harus dimulai pukul 19.00 WIB pada akhirnya dimulai pukul 20.00 WIB. Tak terasa orang-orang yang datang semakin banyak, dan sebelum acara dimulai beberapa menit, setelah saya duduk mencari sudut yang pas untuk memotret, ternyata gedung pagelaran tersebut telah dipenuhi oleh orang-orang yang sepenuhnya asing. Gedung tersebut benar-benar penuh dan riuh.

Dua orang MC pun membuka acara, disusul sambutan dari ketua panitia, ketua STKS, dan pagelaran yang dinanti-nantikan pun dimulai. Tirai dibuka dan betapa terhenyak ketika pagelaran dimulai itu adalah pementasan teater. Tadinya yang terbayang dalam benak adalah tampilan-tampilan yang membosankan dan bikin ngantuk. Ini adalah teater yang lain. Pada awalnya MC menyebutkan itu adalah teater musikal, jadi sudah terbayang sebuah adegan-adegan yang diikuti dengan nyanyian dari para pemainnya. Ternyata apa yang saya bayangkan salah.

Saya tidak peduli penonton riuh karena sorak-sorai kegembiraan, barangkali mereka anggap sebagai sebuah konser Metallica dalam bentuk lain. Setiap orang mempunyai cara tersendiri dalam mengapresiasi panggung malam itu. Ada yang teriak karena temannya berada di panggung, ada yang menyebutkan nama-nama mereka. Jelas sesuatu yang sangat apresiatif di dunia kampus kedinasan kesejahteraan sosial.

Teater, Ruang Penyatuan Multikultur di STKS
Latar belakang multikultural mahasiswa yang dimiliki STKS membuat pementasan teater menjadi lain. Teater dijadikan sebuah gagasan untuk menyatukan keragaman yang ada di kampus tersebut. Menurut Sopyan, ketua panita, “Tujuan dari pagelaran ini untuk mempersatukan perbedaan yang selalu ada di HIMA, Komunitas, juga UKM. Selain itu STKS Art Fest ini ingin menyentuh sisi seni secara menyeluruh, dan itu bisa dengan teater.”

Di sisi lain, seorang penonton yang juga mahasiswa STKS, Ficoh, mengatakan bahwa kegiatan ini berlangsung setiap tahun dan pada tahun ini teater dijadikan sarana untuk mempersatukan. Karena pada tahun-tahun sebelumnya sulit mempersatukan suku-suku bangsa yang ada di kampus tersebut.

Senada dengan apa yang diungkapkan ketua panitia, seorang aktris teater yang berasal dari Jawa Tengah, Maya yang wajahnya seindah Bendungan Cengklik, mengatakan bahwa kebudayaan-kebudayaan yang dipunyai oleh masing-masing daerah bisa menjadi pelangi yang indah di tengah perbedaan yang ada.

Teater menjadi sesuatu yang bisa diekplorasi secara kreatif oleh mahasiswa. Barangkali untuk kampus lain yang latar belakang seninya sangat kuat bukanlah hal baru melihat sebuah tontonan teater sehingga pada umumnya pementasan teater tidak menyentuh sisi multikultur bangsa kita dan terasa stagnan. Lepas dari teknis pemeranan yang terlihat masih kaku, Jumi sebagai tokoh utama membawa dirinya ke alam imajiner, dan di situlah sang sutradara menyisipkan ruang-ruang ke-Indonesia-an yang begitu beragam.

Penampilan tari tradisi Provinsi Jambi. (Foto: M. Romyan Fauzan)

Penampilan tari tradisi Provinsi Jambi. (Foto: M. Romyan Fauzan)

Dengan durasi tidak lebih dari dua jam, Pementasan teater yang berjudul “Tobatnya Si Jumi” itu menyuguhkan kekayaan budaya mulai dari tarian hingga nyanyian dari Sabang sampai Merauke. Misalnya tari Merak dari Jawa Barat, juga ada tarian dari Jambi juga Sumatera Utara, tak lupa tarian dari Kalimantan dan Sulawesi, sampai pada seorang yang berasal dari Papua menjadi bagian dari pementasan. Teater pada saat itu menjadi sebuah sajian yang penulis kira sangat menarik karena tidak seperti pementasan pada umumnya yang hanya memerankan teks dalam sebuah naskah.

Tidak mudah memang ketika keberagaman diangkat dalam satu ruang yang sama. Pada malam itu, saya seperti melihat miniatur Indonesia dengan beragam budaya yang dipunyainya. Malam yang tidak akan pernah dilupakan. Gadis-gadis cantik dari berbagai daerah beserta teriak dan senyuman-senyuman mereka membuat malam lebih religius. Sungguh malam yang indah.

Setelah pementasan selesai, acara dilanjutkan dengan konser musik dan beat box dari mahasiswa STKS. Sedang sorenya diadakan workshop dari DJ Arie School. Sebuah kegiatan yang sepertinya patut diapresiasi mengingat pada saat ini keberagaman budaya Indonesia di tengah jaman yang semakin tergerus oleh budaya luar semakin terlupakan. Dengan latar belakang sosial yang mereka miliki, mereka sadar bahwa perbedaan akan selalu ada di manapun berada. Yang bisa dilakukan hanyalah menjadikan perbedaan itu sebuah keindahan, seperti sebuah lukisan yang elok karena warna-warninya di atas kanvas, dan kanvas itu adalah Indonesia. Seperti sebuah harmoni yang lahir dari jenis alat musik yang berbeda-beda menjadikan suatu musik yang satu dan indah di telinga.

Malam semakin larut dan pagelaran pun berakhir. Para penonton berhamburan entah ke mana, saya tidak sempat memperhatikan mereka lebih detail. Langit Bandung malam itu terlihat dipenuhi cahaya Bintang. Dalam perjalanan menuju pulang. Benak masih saja merekam keriuhan dari apresiasi para penonton. Begitu bergembiranya mereka melihat sesuatu hal yang baru, sebuah pementasan teater yang bisa mempersatukan mereka dalam senyum yang riang. Begitu riangnya mereka ketika melihat teman-teman mereka menjadi bagian dari kebersamaan yang ditampilkan. Terus terang saya tidak terganggu sedikitpun dengan keriuhan itu mengingat di dunia apapun, sesuatu hal yang baru akan disambut dengan rasa yang tidak bisa dibatasi, termasuk teriakan-teriakan mereka.

Barangkali inilah yang mesti dipahami oleh orang-orang yang sudah sekian lama berkecimpung di dunia teater. Di luar kehidupan teaternya sendiri, yang sepertinya berjalan begitu-begitu saja, banyak harapan yang bisa ditambatkan, yakni ketika orang-orang yang masih lelengkah halu dalam perteateran bisa sangat tertarik jika mereka merasa bagian dari pementasan tersebut. Kegembiraan adalah tujuan dari perjalanan seseorang. Walaupun hanya dalam waktu tak sampai dua jam pementasan teater malam itu ditampilkan, tetapi rasa memiliki sangat terasa dari kegembiraan yang mereka ekspresikan.

Pertanyaan yang harus kita jawab hari ini, masihkah atau sudah tidak lagikah teater menjadi bagian dari rasa para penontonnya seperti apa yang disuguhkan mahasiswa di STKS?

Itu PR banget.[]

Foto: M. Romyan Fauzan

KOMENTAR

Penyair, aktor, dan fotografer partikelir. Pengelola Perpustakaan Rubaiyat di Cikembang, Kertasari, Kabupaten Bandung.

Comments
  • Annisa Chyka Aula

    maaf mas sebelumnya koreksi sedikit. itu tarian dari provinsi Jambi, bukan Aceh 🙂 terima kasih.

    4 Maret 2015
    • buruan

      Terimakasih atas koreksinya. Dan, terimakasih telah berkunjung 🙂

      4 Maret 2015

Sorry, the comment form is closed at this time.

You don't have permission to register