Fb. In. Tw.

Selamatkan Gunung dari Sampah

Belakangan ini, animo pendakian semakin meningkat dari gunung ke gunung. Ditambah media sosial memperlebar ruang “promosi” keindahan potret di atas gunung. Untuk pergi ke gunung, siapa saja bisa tanpa harus ada pendidikan terlebih dahulu. Kondisi itu pula yang terjadi saat ini: orang bebas saja untuk menjadi seorang pendaki. Tanpa harus ribet mengetahui manajemen sampai safety menjadi pendaki gunung.

Padahal, kecenderungan tanpa “pembekalan” etika akan menyebabkan persoalan, salah satunya sampah di gunung. Hal itu terjadi karena ketidaksadaran akan ekosistem yang ada di tempat pendakian. Jika sampah makin banyak di gunung itu akan menyebabkan kerugian bagi semua pihak baik pendaki, pemerintah dan masyarakat di sekitar gunumg.

Dapat dikatakan, persoalan membuang sampah sembarangan bukan saja terjadi di kota metropolitan. Gunung pun menjadi sasaran dari perilaku tidak baik itu. Kalau kita amati di kota, volume sampah semakin besar akibat dari kebutuhan sehari-sehari yang memerlukan plastik. Dari itu pula, aliran air sungai dan selokan menjadi sasaran dari perilaku membuang sampah sembarangan tersebut.

Berbeda halnya dengan sampah di gunung.  Sisa plastik dari kantung keresek sebagian besar dapat dipastikan dari wisata pendaki. Dengan itu, bisa dipastikan setiap gunung yang semakin populer oleh pendaki semakin besar persoalan sampah ada.

Peduli
“Saya menyatakan bahwa gunung bukan tempat sampah.” Itu adalah kalimat pernyataan yang terpampang di sebuah spanduk sepanjang 2 meter. Dalam spanduk itu setiap orang menggoreskan tanda tangan sebagai bentuk pernyataan sikap atas kebersihan gunung. Dengan kata lain, mereka berkomitmen bahwa gunung bukan tempat sampah.

Adalah komunitas Trashbag Comunity DPC Bandung—komunitas peduli sampah gunung yang menyelenggarakan acara Sapu Jagat Gunung Bandung. Acara tersebut dilaksanakan pada 20 Agustus sampai 11 September. Dengan memilih empat gunung yang saban hari ramai pendaki: gunung Burangrang, Manglayang, Rakutak dan Puntang.

“Belakangan ini, kegiatan di alam bebas (outdoor) khususnya dalam dunia pendakian semakin digemari. Itu pula yang menyebabkan munculnya sampah di gunung terutama,” ujar Taufik Nurdin (26), ketua Pelaksana kegiatan tersebut. Ia menerangkan begitu pula semakin populer gunung-gunung yang ada di Bandung Raya  maka tidak akan terelakan pula persoalan sampah yang akan ada di gunung. Opik—sapaan  akrabnya—menuturkan bahwa jika ada sampah di daerah hutan atau gunung akan merusak ekosistem di sana.

Oleh karena itu mereka bergerak untuk merespon perilaku membuang sampah sembarangan dengan membuka pendaftaran sekaligus membentuk relawan untuk memunguti sampah. Penyelamatan pertaman, dari gunung Burangrang—20-21 Agustus.

Sedangkan Trashbag Community adalah komunitas yang fokus terhadap sampah gunung. Ketua DPC Trashbag Comunity DPC Bandung, Ikhsan Mutaqin (24) menuturkan komunitas ini berdiri sejak tahun 2011. Penyebabnya atas keresahan bersama terhadap kondisi gunung-gunung di indonesia yang sudah kritis akan sampah.

“Trashbag Community adalah wadah kawan-kawan pendaki gunung yang perduli akan keadaan sampah yang tidak seharusnya ada di atas gunung. Komunitas ini pula selalu berupaya untuk mengajak bersinergi seluruh lapisan pendaki baik itu Sispala (Siswa Pecinta Alam), (KPA) Komunitas Pecinta Alam, (OGA) Organisasi Pecinta Alam, serta MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) dll untuk ikut turut serta dalam mengkampanyekan “Gunung Bukan Tempat Sampah” dengan melalui metode ; Aksi, Edukasi dan Pengawasan,” ujar pria penyuka Pendakian gunung ini.

Rasanya, tidak salah jika fatwa komunitas peduli sampah gunung ini bahwa kebersihan di atas gunung ini mutlak. Fungsinya, untuk menjaga keindahan alam dan keberlangsungan hidup.

Dari acara “Sapu Jagad Gunung Bandung” itu terdapat data penting sampah yang mereka pungut dari gunung. Pertama, Gunung Burangrang (20-21 Agustus) pendakian dari jalur Legok Haji dan Jalur Komando  bersama dua belas orang panitia dan lima puluh dua relawan total sampah 82 kg. Dengan kategori sampah plastik 30%, botol kemasan plastik 40%, botol kemasan kaleng 5%, botol kemasan kaca 5%, kertas 10% dan puntung rokok 10%.

Kedua, Gunung Manglayang (27 – 28 Agustus) Jalur Batu Kuda dan Jalur Baru Bereum; total relawan 42 (15 panitia dan 27 peserta ); total sampah 27 Trashbag; berat sampah 83 kg, klasifikasi sampah : sampah Plastik 35 %, botol kemasan plastik 35 %, botol kemasan kaleng 10 %, botol kemasan kaca 10 %, kertas          5 % dan puntung  rokok 5 %.

Ketiga, Gunung Rakutak (3 – 4 September) total relawan 25 ( 11 panitia dan 14 peserta ) total sampah 18 Trashbag berat sampah 81 kg. Klasifikasi Sampah : sampah plastik 30 % botol kemasan plastik 35 % botol kemasan kaleng 10 %, botol kemasan kaca 15 % kertas5 % dan puntung rokok 5 %.

Terakhir, Gunung Puntang ( 10 – 11 September)—Bumi Perkemahan Puntang, total relawan 147 ( 50 peserta, 25 panitia dan 72 simpatisan ) total sampah (Opsih Buper 1 Blok ) 11 Trashbag  Berat Sampah 53 Kg.

Kian penting untuk melihat data itu. Setidaknya, untuk pengetahuan bagi seluruh pihak bahwa membuang sampah di gunung akan berakibat fatal bagi ekosistem lingkungan di sana. Sejatinya, dengan kesadaran atas gunung, kita akan menyeimbangkan antara kampanye pariwisata dengan perilaku tertib sampah.

KOMENTAR
Post tags:

Penyair dan esais. Eksponen Sasaka. Sedang menyelesaikan pendidikan di Sekolah Pascasarja UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

You don't have permission to register