
Rekonstruksi Mitologi Langit Ketujuh
“Dia memaksakan keesaan Tuhan kepada orang-orang dengan kekerasan, alih-alih dengan cara meyakinkan dan dengan argumen rasional. Karenanya, dia membuat hal itu lebih mudah bagi musuhnya untuk kemudian menghapus Tuhan dari orang-orang dengan cara serupa—dengan paksaan.”
– Naguib Mahfouz, (hlm. 19)
Mengungkapkan pernyataan itu di tengah geliat islam fundamentalis di Indonesia, sedikit beresiko, meski diperlukan. Bagi mereka, berdakwah mesti menggunakan berbagai jalur. Termasuk meledakkan tubuh hingga hancur. Agama begitu mengerikan jika dibangun oleh wacana penuh kekerasan. Kita butuh narasi-narasi alternatif dalam beragama. Sastra dapat menjadi salah satu cara.
Naguib Mahfouz telah melakukan kerja sastra itu dalam noveletnya Langit Ketujuh (Penerbit Trubadur, 2018) terjemahan Syhiabul Furqon dari The Seventh Heaven. Judul asli dalam bahasa Arabnya Al-Sama’ As-Sabi’ah.
Membaca judulnya, saya langsung teringat Ki Adeng. Selepas nyorogan kitab kuning, saya dan Ki Adeng biasanya berbincang berdua. Suatu saat, saya bertanya soal semesta. Dengan yakin, dia menceritakan dari sebuah kitab bahwa semesta ini dibangun atas tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit. Di lapisan bumi paling bawah terdapat sebuah ikan besar menopang bumi. Ketika ikan itu bergerak sedikit saja, maka bumi akan gempa. Berbeda dengan langit ketujuh. Di sana singgasana Tuhan berada. Tegak lurus vertikal dari Ka’bah. Begitu ceritanya. Lekat di ingatan saya.
Langit ketujuh dalam mitologi islam termasyhur adalah peristiwa Isra dan Mi’raj Rasul Muhammad. Konon, di langit ketujuh itulah terjadi percakapan dengan Tuhan. Langit ketujuh menjadi puncak transenden manusia.
Novelet karya peraih nobel sastra tahun 1988, sekaligus penulis berbahasa Arab pertama yang meraihnya, memilih topik Langit Ketujuh bukan hanya untuk rekonstruksi mitologi islam (https://medium.com/@abdullahsameer/the-seven-heavens-93cfc92f7e29), tetapi juga menjadi mitologi dalam banyak kepercayaan lainnya (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Seven_Heavens). Mahfouz benar-benar merekonstruksi kembali soal langit ketujuh itu. Mulai dari redefinisi apa itu Langit Ketujuh, hingga pertanyaan filosofis, untuk apa kita mesti pergi ke sana?
Paragraf pembuka tulisan ini ialah ungkapan Abu, sang pengacara manusia di langit pertama. Kalimat itu disampaikan untuk menjawab pertanyaan soal Akhenaten, orang pertama yang menyampaikan keesaan Tuhan pada manusia.
Mahfouz memberikan sebuah imajinasi baru, bahwa manusia akan menghadapi pengadilan di langit pertama. Sebuah pengadilan teramat adil karena manusia akan memiliki pengacara di sana. Pengacara itulah yang akan memberikan pertimbangan keputusan. Orang yang berhasil (terampuni) akan menjadi pendamping spiritual manusia di bumi sebagai syarat naik ke langit ke lapisan langit lebih tinggi. Sementara orang yang salah akan dihukum dengan bersalin rupa menjadi manusia baru di dunia untuk memperbaiki seluruh kesalahannya. Menjadi orang yang berhakikat kebaikan.
Dari adegan itu saja, Mahfouz menunjukkan bahwa sastra mampu memberikan perspektif baru soal mitologi-mitologi yang dipercayai manusia. Sebagai penulis dari Mesir, salah satu negara di mana Khilafah pernah berjaya, tentu ia paham bahwa dalam mitologi islam, saat di pengadilan akhirat kelak manusia tak mampu bicara, apalagi punya pengacara. “Akan tiba masa, tak ada suara, dari mulut kita,” begitu kata sebuah lagu.
Kedua, dalam konsep islam tentu tak ada proses manusia lahir kembali. Jika tak diampuni maka ia masuk neraka. Sedikit orang mungkin akan lolos ke surga. Sebuah konsep dikotomi mengerikan. Hukuman atau kenikmatan.
Mahfouz memberi peluang lain, bahwa manusia akan berubah. Diampuni atau tidak, mereka akan lahir kembali hingga bertemu hakikat lebih tinggi untuk kemudian naik ke lapisan langit berikutnya. Konsep reinkarnasi lebih dekat dengan kepercayaan Buddha.
Rekonstruksi juga terjadi pada persoalan hakikat dikotomi dalam agama. Ia menawarkan sebuah spektrum lebar terkait dosa dan pahala. Mahfouz menyampaikan itu lewat dialog antara manusia dengan Abu sang pengacara di langit pertama. Abu, yang dominan menjadi pikiran Mahfouz dalam novelnya, menceritakan tokoh-tokoh dunia terkait nasibnya di akhirat.
Misalnya, saya sampaikan terkait tokoh Komunis, Lenin, yang menurut orang Indonesia sesat dan atheis itu. Keputusan pengadilan di sana menyebut bahwa Lenin terampuni. Ia hanya “mengubah nama-nama tapi tidak esensinya”. Ia menggambarkan struktur manusia lewat mitologi agama samawi. Misalkan dengan sebutan “saintis adalah nabi, para malaikat sebagai pekerja, dan para iblis adalah borjuis” (hlm. 20).
Tentu disampaikan juga berbagai nasib tokoh lainnya: Khalid bin Walid, Gandhi, Seikh Ashur, Shakir al-Durzi, Tuan Balfour, Khunfus si Pembelot revolusi Urabi, Rayya seorang pembunuh berantai yang terkenal, Camille Chamoun, Presiden Wilson, Taufiq al-Hakim seorang penulis terkenal, Stalin yang dihukum menjadi pekerja berat di pertambangan India, Fathi Ridwan, Ahmar Urabi, Osman Ahmed Osman, dan tokoh lainnya Bahkan, Raouf Abd-Rabbuh, sang tokoh utama dalam novelet ini kaget, saat tahu bahwa ibunya adalah sosok baru dari perempuan di masa lalu.
Mungkin sebagian ukhti dan akhi geng hijrah bertanya, apakah tidak dosa dan musyrik membaca cerita yang berbeda dari kepercayaan kita? Aduh! Tampaknya, Mahfouz telah memprediksi kehadiran muslimin wal muslimat seperti itu. Tulisnya, “Kami tidak menghakimi pikiran bahkan seandainya pikiran itu keliru. Sebaliknya, kami mencela ketertundukan terhadap pikiran apa pun, bahkan seandainya pikiran itu sahih,” (hlm. 11).
Jika belum membaca, kita akan menerka bahwa novelet ini melangit, hanya mempersoalkan kematian, hari akhir, dosa, pahala, dan semua hal abstrak tanpa mengurusi bumi manusia. Oh, tentu tidak, justru Mahfouz mengajak pembacanya untuk meminjam mitologi langit ketujuh (atau akhirat) sebagai cara bernalar untuk merekonstruksi apa peran manusia di bumi. Tulis Mahfouz tentang itu misalkan dalam kutipan-kutipan berikut:
“Di bumi, kau memimpikan sebuah dunia yang menahbiskan kota kebajikan yang didasarkan pada kebebasan individu, keadilan sosial, kemajuan sains, dan keberlimpahan kuasa atas kekuatan alam. Demi semua hal ini, kalian berperang dan berdamai, serta memicu Kekuatan Berlawanan yang—dalam terminologimu sendiri—kau sebut dengan reaksionisme” (hlm. 23).
Membaca gagasan utama cerita ini saya teringat cerpen memukau dari penulis Indonesia, tak lain ialah “Robohnya Surau Kami” dari A.A Navis (https://tirto.id/robohnya-surau-kami-dan-aa-navis-yang-dianggap-mengejek-islam-cMUT). Tapi, kita bolehlah sedikit berbangga. Cerpen A.A Navis itu diterbitkan tahun 1955 pada majalah Kisah. Sementara Mahfouz merampungkan novelet “Langit Ketujuh” pada tahun 1979 dalam antologi “Al-Hubb Fawqa Hadabat Al-Haram”.
Kedua karya itu, hemat saya, mempersoalkan hakikat hidup manusia yang mabuk agama tanpa mau mengurusi persoalan di mana ia berpijak pada semesta manusia. Mahfouz menulis, “Keberkatan bagi siapapun yang membaktikan pengabdiannya pada dunia yang merana,” (hlm. 34). A.A Navis mengungkapkan dengan caranya, “Ku beri kau negeri yang kaya-raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang[…] Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, sehingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja,” (hlm.11-12).
Novelet “Langit Ketujuh” secara garis besar menceritakan Raouf Abd-Rabbuh yang meninggal karena dibunuh sahabatnya, Anous Qodri. Cerita kemudian lebih banyak berjalan bukan di langit, tapi di kampung di mana Anous Qodri dan Raouf tinggal. Di kampung itu Anous Qodri sangat berkuasa, terutama karena bapaknya Qadri Si Jagal yang kaya raya sehingga mampu membeli hukum dan politik kampung itu, serta keamanan lewat pasukan premannya.
Suatu hari, Anous terbunuh. Ia tiba di langit pertama, dinyatakan gagal dan turun kembali ke bumi menjadi Raouf. Ibu Raouf yang dulu telah menikah dengan seorang Saikh orang kepercayaan Qadri Si Jagal. Raouf Kecil (Anous) bekerja sebagai pegawai di kedai roti. Dari sana dia seringkali membicarakan hal-hal revolusioner.
Raouf bernasib sama, dinyatakan gagal menjadi pendamping spiritual karena ia malah mengikuti hasratnya sendiri untuk menunjukkan bahwa Anous bersalah telah membunuhnya. Ia dihukum menjadi Anous Kecil, anak baru dari Qadri Si Jagal dan istrinya. Raouf tumbuh menjadi polisi berani dan jujur. Ia menentang ayahnya. Ia menyelamatkan dan jatuh cinta pada Rashida. Ia menggelar revolusi dengan menangkapi preman anak buah ayahnya. Terjadi pertempuran. Qadri Si Jagal emosi, turun ke pasar, dan kemudian terbunuh oleh Raouf Kecil dan Raouf Kecil pun terbunuh oleh Qadri Si Jagal.
Ketika Qadri Si Jagal diadili. Ia menyalahkan orang lain yang salah karena mereka terlalu lemah menjadi manusia. Abu menjawab, “orang lain akan dihukum karena kelemahan mereka, sebagaimana kau akan dihukum karena telah mengeksploitasi kelemahan mereka,” (hlm. 95).
Baca juga:
– Antara Mitos yang Lentur dan Sejarah yang Terpenggal
– Perjalanan Mencari Ayam: Tentang Kehilangan
Membaca cerita Qodri Si Jagal dan anaknya, saya menjadi teringat kepada “Bapak Pembangunan” di Indonesia. Ia diduga telah menjagal ribuan nyawa komunis demi kekuasaannya. Ia diduga juga telah memajukan kekuasaannya untuk kekayaan anak-anaknya tercinta (https://teguhtimur.com/2008/01/26/soeharto-inc/).
Bagaimana nasib Bapak Pembangunan itu ya? Ada di lapisan langit mana ia sekarang? Atau sedang bersalin rupa menjadi politisi lain? Entah. Sebenarnya, pertanyaan dan bayangan soal Langit Ketujuh bisa jadi tak terlalu penting. Langit Ketujuh, “itulah yang biasanya dikatakan untuk memberi harapan dan penghiburan kepada seseorang, meski tak ada secarik bukti pun yang menunjukkan bahwa hal itu benar adanya” (hlm. 95-96). Langit ketujuh hanya persoalan penyulut gairah hidup manusia di dunia.
Saya membaca novelet tipis ini selesai dalam sekali duduk dalam angkutan kota Ledeng-Leuwi Panjang. Namun, dalam perjalanan itu, saya seperti tengah menempuh perjalanan spiritual yang tiba ke tempat terjauh. Merenungkan berbagai hal soal hidup ini. Menyadarkan saya sebagai manusia yang memiliki kehendak bebas untuk berbuat baik atau busuk terhadap manusia lain dan makhluk lain di semesta ini.
Mahfouz memperingatkan “Jangan lupa bahwa manusia memiliki kehendak bebas.” “Bukankah menghilangkan kebebasan ini bisa menjadi hal yang baik?” “Kehendak ditentukan, hanya yang bebas yang akan mendapat izin masuk ke dalam surga,” (hlm.15).
Judul : Langit Ketujuh (Diterjemahkan dari The Seventh Heaven)
Penulis : Naguib Mahfouz
Penerjemah : Syihabul Furqon
Penerbit : Penerbit Trubadur
Tebal : ii+99 halaman, 12 x 18 cm
Cetakan : Juli, 2018 (Pertama)