Fb. In. Tw.

“Preman Pensiun”,  Sekuntum Mawar Beserta Durinya

Entah sejak kapan sesuatu bisa diartikan sebagai kekerasan dalam sebuah tayangan televisi. Aturan kekerasan apapun yang dibuat oleh pemilik kebijakan akan bias ketika kita membandingkan satu tayangan di televisi dengan tayangan lainnya.

Lalu apa kekerasan dalam tayangan visual itu? Peringatan terhadap Preman Pensiun yang tayang di RCTI setiap Senin sampai Sabtu pukul 17.00 WIB mendapat teguran oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), tepatnya pada Jumat 20 Februari 2015 lalu.

Isinya seperti ini, “Program tersebut beberapa kali menayangkan adegan kekerasan fisik, seperti menjambak dan menampar. Kami juga menemukan adegan-adegan serupa pada program saudara yang ditayangkan tanggal 20, 21 dan 27 Januari 2015 serta 3 Februari 2015. KPI Pusat menilai adegan tersebut tidak pantas untuk ditayangkan dan berpotensi ditiru oleh anak-anak dan remaja yang menonton acara tersebut.”

Selengkapnya bisa baca Peringatan Program siaran Preman Pensiun ini.

Hal itu membuat saya bertanya-tanya tentang apa makna kekerasan dalam sebuah tayangan visual. Kekerasan bisa terasa baik dan buruknya jika dipahami secara sadar.  Ada dua hal yang saya pikir penting untuk digarisbawahi. Pertama kekerasan fisik dan kedua kekerasan batin. Kekerasan fisik adalah kekerasan yang melibatkan bagian luar tubuh secara langsung. Jika kita telisik lebih sentimentil, barangkali hampir setiap pagi, sore, sampai malam, ketika ada tayangan berita hampir selalu ada hal-hal yang berhubungan dengan kekerasan fisik.

Mengenai teguran KPI pada Preman Pensiun, rasa-rasanya teguran tersebut perlu dilihat dari sisi positif dan negatifnya, mengingat di luar sinetron, terutama berita selalu ada tayangan fisik yang membuat kita miris melihatnya. Apa kabar pemberitaan tawuran atau kegaduhan di Gedung DPR yang melibatkan fisik? Apakah itu mendidik secara visual?  Apa kabar acara Gulat Bebas atau Tinju? Atau sepakbola yang ada kelahinya?

Ya, Itu semua adalah kekerasan visual karena melibatkan kekerasan fisik di dalamnya. Bahkan untuk yang di gedung DPR ketika perebutan kursi kepemimpinan, malah melebihi adegan sinetron lucu manapun. Apa bedanya dengan seorang Kang Mus yang menampar Jamal dalam Preman Pensiun? Tentu tidak ada. Kedua-duanya menampilkan tayangan kekerasan.

Perihal kekerasan fisik ini sepertinya tidak jelas batas-batas yang harus disajikan dalam tayangan televisi. Penting untuk KPI memberikan batas-batas yang jelas sehingga tayangan apapun tidak berpotensi untuk membuat para penonton terganggu dengan adegan fisik itu.

Kedua adalah kekerasan batin. Ini yang saya kira penting.  Pendidikan kesadaran di negeri ini sangat rendah, perlu ditampilkan upaya tayangan yang mendidik dan menghibur. Hanya dengan hiburan orang-orang di negeri ini jadi sadar apa makna tersenyum. Tapi apakah itu cukup untuk menyadarkan orang-orang yg sudah termutilasi kesadarannya? Saya kira tidak, penting untuk menyelipkan sedikit-sedikit kesadaran dalam setiap hiburan.

Tertawa tidak menyelesaikan apapun, tapi berpikir ketika tertawa adalah hal lain. Mari kita berpikir sejenak perihal tayangan-tayangan di televisi. Ketika sebuah sinetron menampilkan kekayaan melulu dalam tiap adegannya. Itu tentu saja sangat menyedihkan. Ketika segala hal gaib diangkat menjadi hiburan, ketika serigala-serigala berasal dari manusia. Apakah itu pendidikan ilmu gaib? Hei, kita ini negeri beragama dan juga bukan negeri gaib. Kita hidup di negeri yang realitasnya menyedihkan.

Kekerasan batin akan menjadi hal yang sangat berbahaya bagi masa depan kesadaran berpikir di negeri ini. Orang-orang diseret untuk menjadi seperti yang di televisi, dan ditawarkanlah harta berlimpah itu adalah ideal. Apa kabar kesederhanaan? Sepertinya orang-orang lupa pada hal itu. Dan, Preman Pensiun menyajikan kesederhanaan untuk kita. Kekerasan batin bisa juga muncul dari adanya program-program televisi yang menawarkan segala hal yang berbau instan. Semua orang ingin menjadi instan tanpa tahu bagaimana proses kehidupan sebenarnya.

Kekerasan batin lebih berbahaya dibanding kekerasan fisik. Karena berefek pada pola kesadaran berpikir orang-orang. Bagaimana seorang Bahar bisa insyaf dengan kata-kata “Saya mau shalat dulu.” Setelah sekian lama tidak meninggalkan dunia religius, tidak disebutkan dalam sinetron tersebut bahwa Bahar telah insyaf. Tapi dengan pelaksanaan. Dan Rendra berkata bahwa, “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”. Ada perjuangan yang disampaikan oleh si penulis naskah, Aris Nugraha, dalam proses pengembalian diri menjadi seorang yang kembali pada Tuhan-nya.

Contoh kekerasan batin itu adalah ketika sebuah sinetron mengajak penonton untuk ganteng menurut industri, cantik menurut make up di iklan, kaya sudut pandang harta, dsb. Betapa orang-orang berlomba untuk menjadi kaya seperti dalam televisi, itu semua akibat kekerasan batin. Semua orang diseret bermimpi dan mengabulkan mimpinya dari dunia khayal yang ditampilkan.

Dari hal tersebut, bisa timbul kejahatan yang membuat orang menghalalkan segala cara untuk mimpinya. Dalam Preman Pensiun, Bahar adalah orang kaya, pemimpin, penguasa. Lalu kita tengok sejauh mana kekayaan yang dimilikinya? Sangat realis dan manusiawi. Sajian yang logis lainnya ketika anaknya Kinanti masih susah cari kerja. Saya tidak ingin membandingkan dengan sinteron lainnya, tapi penting untuk melihat secara intertekstual sebuah tayangan yang menyadarkan dan tidak.

Kekerasan batin sudah menjadi hiburan yang dikejar saat ini secara di luar sadar. Kekerasan yang berujung pada kesadaran pemikiran yang hedonis. Seolah kita menonton mimpi dan mengejar mimpi itu dengan berbagai cara.

Lalu bagaimana mestinya kita menghadapi hal-hal demikian? Tentu penting untuk membaca secara tartil setiap tayangan. Mana yang melangit dan tidak. Mana yang mengajak mimpi atau menjejak kenyataan. Mana yang membuat tersenyum sambil berpikir mana yang tebahak tanpa dapat apapun.  Hari ini setiap rumah hampir dipastikan memiliki televisi. Jika kita sebagai penikmat televisi tidak bisa memilih mana yang memberi manfaat dan tidak, ya siap-siaplah jadi korban televisi yang penuh mimpi itu.

Preman Pensiun yang ditulis oleh Aris Nugraha, dengan background-nya yang pernah membuat dua kumpulan puisi yang berjudul Catatan Gunung Sahari (Puspa Swara, 1993) dan Nyanyian Hutan Bakau (Pustaka Sastra, 1994) tentu tahu benar utile dan dulce sebuah naskah. Tidak mudah menjadikan sebuah tontonan menghibur dan bermanfaat. Tidak mudah membuat tontonan yang merakyat walau ‘media’ yang dipakai adalah preman.

Pada akhirnya kita hanya harus bersikap, bahwa tidak setiap apa yang kita lihat adalah hal yang baik. Pilihan adalah bagian dari hidup, dan kita mesti memilih di depan televisi, mana hal yang baik dan hal yang buruk yang mesti kita terapkan dalam keseharian. Kekerasan akan selalu kita temukan dalam keseharian, terlebih kekerasan batin yang saat ini sudah menjadi motivasi hidup akibat tayangan-tayangan yang menyedihkan di televisi. Kita harus pintar memilih, kita harus pandai menilai.[]

Sumber foto: M. Romyan Fauzan

Catatan redaksi: Tulisan ini bukan sikap buruan.co atas teguran KPI terhadap tayangan tersebut, melainkan murni catatan penulis.

KOMENTAR

Penyair, aktor, dan fotografer partikelir. Pengelola Perpustakaan Rubaiyat di Cikembang, Kertasari, Kabupaten Bandung.

Comments
  • begitu sedikit tontonan yang mencerdaskan, hingga KPi tumpul mata cerdas batinnya,
    mengalir terus preman pensiun. biar indonesia bisa mengaji pada kejujuran sebenarnya.
    visual indonesia perlu sentuhan sastra. salut buat kang Uyan.

    8 Juli 2015
  • pamungkas

    Edun mang uyan…

    6 Maret 2015
    • UYAN

      Edun mah tatangga abdi, namina Mang Edun…hehe

      6 Maret 2015
  • Giri

    apa KPI tidak melihat, banyak tayanga lain yang justru lebih merusak, ya banyak sinetron -diluar Preman Pensiun- yang merusak tatanan kehidupan. Contoh nyata yang sering kami jumpai adalah kostum/pakaian yang digunakan para tokoh pelajar dalam banyak sinetron tidak sesuai dengan standar aturan pakaian pelajar. Jadi pan barudak di sakola nurutan make pakean jiga di sinetron, teu sesuai aturan sakola. itu dari pakean aja belum aspek lain. Kesederhanaan dan realitas kehidupan yang diangkat dalam “preman Pensiun” kenapa dipermasalahkan? ari nu bener” ngarusak diantep wae. Tingali sing eces atuh

    5 Maret 2015
    • UYAN

      Bener mang, ningalina bari peureum meureun. Heuheu….

      6 Maret 2015
      • Giri

        bener mang, pan jadinyah kuring di sakola sok sareukseuk mun ningali barudak make pakean “korban sinetron” bukanya apa-apa tapi kasihan ke anaknya, komo ka orang tua snu ngabiyayan na. hese cape memener aturan di sakola eh dina sinetron pakeanna teu baraleg.

        6 Maret 2015
  • DNR

    Waaw. Mari kita bergembira

    5 Maret 2015
    • UYAN

      Mari Maaaaangsss…yeyyee

      6 Maret 2015
  • Mumu

    Saya tunggu Perman Pensiun Jilid 2 😀

    27 Februari 2015
    • UYAN

      Nuhun Kang udah setia… saling mendoakan lancar semuanya yaaa…hehe

      6 Maret 2015
  • Mumu

    Hebat mang Uyan! Josss

    27 Februari 2015
    • UYAN

      Joss gandoss… uyee..

      6 Maret 2015
  • bojes

    acara infotaiment emang ada yang tidak melakukan kekerasan mental di televisi, sepertinya tidak ada. kpi itu memang harus ditinjau ulang kebijakan-kebijakannya. jangan-jangan nanti ada kpt (komisi penyiaran teater)

    27 Februari 2015
    • UYAN

      Iya, KPI sebagai pemilik kebijakan mestinya dipegang sama orang-orang yang waras. Menyedihkan.

      6 Maret 2015
  • bojes

    Betul mang, Uyan. Banyak kekerasan mental pada acara-acara di televisi yang tidak kena sensor.

    26 Februari 2015
    • Setuju… Kekerasan mental yang terus-menerus menggerus kesadaran penonton. Menyedihkan.

      26 Februari 2015

Sorry, the comment form is closed at this time.

You don't have permission to register