
Pandu: Schoemaker, Ursone, dan Ereveld
Hampir Maghrib, Terusan Pasteur yang panik. Hari itu memang jatahnya Bandung kebanjiran arus balik para wisatawan yang telah ber-long weekend. Akibatnya, kendaraan dari arah Pasupati dan Pasteur saling silang, saling salip, saya terjebak di antaranya.
Sebagai pengendara motor yang ingin segera sampai rumah, akhirnya saya putuskan untuk melewati jalan pintas. Jalan ini bisa menghubungkan jalan Pasteur dengan jalan Pajajaran, cukup sempit untuk ukuran jalan yang sering dilewati kendaraan dan hanya cukup dilewati oleh satu jalur motor.
Sebenarnya jalan sempit ini adalah jalan bagi para peziarah menengok makam leluhurnya. Melihat makam di kanan kiri jalan saya jadi teringat sajak Goenawan Mohammad “Tentang Maut”.
Di ujung bait itu mulai tampak sebuah titik
Yang kemudian runtuh, 5 menit setelah itu.
Makam-makam sepanjang jalan ini adalah bagian dari pemakaman Pandu. Pemakaman Pandu tepat berada di sisi kiri jalan Terusan Pasteur setelah turunan jalan layang Pasupati, tepatnya di Kelurahan Pamoyanan Kecamatan Cicendo.
Jika dari arah jalan Pajajaran, perjalanan akan bermula dengan menyusuri jalan sejauh 500 meter setelah gereja Pandu. Setelah melewati jalanan rimbun menuju utara, tibalah di depan gerbang pemakaman dengan latar gunung Tangkuban Perahu dari kejauhan.
Pemakaman ini memiliki luas sekitar 10 hektar dengan jumlah makam lebih kurang 21 ribu. Dari ribuan makam yang ada, tercatatlah nisan dengan nama Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker.
Di ujung ruang itu mulai tampak sederet jari
yang ingin memungutnya kembali.
Tapi mungkin
itu tak akan pernah terjadi.
Nisan bertanggal 25 Juli 1882-22 Mei 1949 berada di pemakaman Pandu yang cukup padat. Bagi Schoemaker yang seorang Guru Besar, makamnya tampak biasa saja tanpa ada ornamen yang berlebihan. Schoemaker adalah seorang arsitek sekaligus guru bagi angkatan pertama insinyur pribumi di Technische Hogeschool (Institut Teknologi Bandung), salah satu muridnya adalah presiden Soekarno.
Karya arsitektur Schoemaker masih bisa kita nikmati sampai saat ini, salah satunya adalah Gedung Merdeka. Gedung yang sedang naik daun pasca perhelatan Konferensi Asia-Afrika ini merupakan hasil rombakan Schoemaker.
Karyanya yang lain adalah Hotel Preanger, Gereja Bethel, Masjid Cipaganti dan tentunya gedung megah yang ada di utara kota Bandung, Villa Isola. Bangunan Art Deco di kota Bandung, sebagian berkat pemikiran Schoemaker.
Namun sayang, makamnya tak seartistik karya yang dibuatnya. Bahkan cenderung terbengkalain dihimpit batu isan makam lain.
Ini jam yang amat biasa: Maut memarkir keretanya di
ujung gang dan berjalan tak menentu
Selain Schoemaker, di pemakaman ini pun terdapat makam keluarga saudagar pada masanya, Ursone bersaudara. Mereka adalah pendiri Bandoengsche Melk Centrale (BMC) yang bangunannya masih bisa kita lihat di Jalan Aceh.
Ursone bersaudara ini berkebangsaan Italia, mereka membuat usaha pemerahan susu pada tahun 1895. Usaha tersebut diawali dengan 30 ekor sapi perah kemudian sekitar tahun 1940 berkembang menjadi 250 ekor sapi. Mereka memiliki banyak tanah, bahkan lahan observatorium milik Bosscha merupakan hibah dari Ursone.
Berbeda dengan makam Schoemaker, makam Ursone bersaudara ini merupakan yang paling megah di antara makam yang ada di Pandu. Bangunan ini berbentuk rumah, berdiri dengan pilar yang tinggi bertuliskan “Orate Pro Nobis” dan beberapa nama Fam Ursone yang berderet di dinding makam. Di sudut kanan dan kiri terdapat patung wanita yang sedang menunduk. Makam berbahan marmer ini merupakan pindahan dari Kerkhof Kebon Jahe (sekarang GOR Pajajaran).
Langkahnya tak seperti yang kau bayangkan: tak ada
gempa, tak ada hujan asam, tak ada parit
yang meluap
Ereveld atau Taman Kehormatan merupakan pemakaman yang eksklusif. Ereveld merupakan kompleks pemakaman tentara KNIL yang tewas saat berperang dengan Jepang. Di Indonesia terdapat 7 Ereveld, dua di antaranya terdapat di Priangan, yaitu di Leuwigajah, Cimahi dan Pandu, Bandung.
Ereveld Pandu terletak di dekat gerbang masuk Pemakaman Pandu. Pemakaman ini dikelilingi gerbang yang tinggi dengan benteng di kanan dan kiri bertuliskan Ereveld Pandu. Tidak sembarang orang yang dapat masuk di wilayah Ereveld ini, karena tanah yang digunakan merupakan teritorial Belanda.
Orang yang diperbolehkan masuk mestilah membuat surat izin ke Oorloch Gravenstichting (Yayasan Makam Kehormatan Belanda) di bawah naungan Kedutaan Besar Belanda. Jika dilihat dari gerbang, pemakaman di dalamnya sangat rapi dan luas, sangat berbeda dengan makam-makam di luarnya yang tidak beraturan. Nisan berbentuk salib berwarna putih berjejer rapi, ada sekitar 4.000 jenazah yang dimakamkan di sini, di tengah area Ereveld tertancap bendera Belanda.
Hanya sebuah sajak, seperti kabel putus.
Atau hampir putus.
Perjalanan pulang kali ini rasanya menjadi bermakna, dari sekedar mencari jalan pintas, teringat potongan-potongan sajak, hingga menilik sejarah beberapa tokoh di Bandung tempo dulu. Melewati jalan sempit di antara makam selalu mengingatkan saya akan maut. Maut memanglah hak mutlak Tuhan, tak ada yang tahu kapan maut menjemput, maka bermesra-mesralah dengan maut, karena sesungguhnya kapan pun kita bisa benar-benar pulang.[]
Sorry, the comment form is closed at this time.
Nurul Maria Sisilia
Bagus tulisanmu, Iki. 🙂
selaksa biru
Menarik kenyataan dan menyajikannya disertai temali puisi membuat tulisan Rizqi Nur Amallia ini menarik sekaligus nyastra. Keren.
Boleh siapa saja
Tahun 80-90an pemakaman Pandu sering dijadikan arena duel anak SMP. Duel yang artinya satu lawan satu dan bukan tawuran. Sisi lain Bandung yang menarik.
iyang
Kereennn..iyang bru tau loh qie..hehehe
Rizqi Nur Amalliah
Terima kasih, semoga terus penasaran, agar terus mencari dan menggali.
Dian Hardiana
iki keren iki, tulisan bernas
Panji Irfan
Jadi penasaran dibuatnya.. Penasaran dengan bentuk makam dari pesohor yang ditulis di atas..