Fb. In. Tw.

Kisah Petani di Jalur Kereta Api

Jika hendak pergi ke Ciwidey. Di jalur Sungapan yang menghubungkan Soreang-Ciwidey akan terlewati sebuah jembatan kereta api. Kondisinya masih terlihat sangat kokoh.

Bagi seseorang yang baru melintas kawasan itu, akan berpikir bahwa kereta api masih sering beroperasi di jalur kereta ini. Namun, jangan harap melihat kereta api yang melintas. Kini jembatan itu hanya sebatas saksi bisu atas sebuah kenangan, betapa dekat jarak antara Bandung dan Ciwidey.

Ya, dulu Ciwidey-Bandung terasa lebih dekat sebab jarak tempuhnya masih dihubungkan oleh kereta api lokomotif. Si Gombar, itulah julukan masyarakat terhadap kereta api bertenaga uap saat itu.

Para petani Ciwidey kerap menggunakan jasa Si Gombar untuk menjual hasil buminya ke kota. Begitu juga warga kota yang ingin plesiran ke Ciwidey kerap menggunakan jasa angkutan yang berujung di stasiun Ciwidey ini. Inilah stasiun tujuan terakhir di wilayah Kabupaten Bandung yang keberadaanya sangat membantu perekonomian para petani saat itu.

Masa-masa itu telah termakan oleh waktu. Jalur kereta api yang menghubungkan stasiun Bandung dan Ciwidey resmi ditutup pada tahun 1979. Alasan dibalik penutupan ini adalah peristiwa kecelakaan rangkaian kereta pengangkut kayu yang terjadi pada tahun 1972. Selain itu, dari sisi ekonominya dinilai tak menguntungkan transportasi kendaraan bermotor.

Kini distribusi hasil bumi para petani Ciwidey beralih ke angkutan roda empat seperti mobil bak terbuka dan truk. Biaya transportasi tentu lebih tinggi.

Seiring perjalanan waktu, karena semakin tipisnya akses petani ke kota. Para tengkulak pun tumbuh subur mewarnai siklus perekonomian para petani Ciwidey. Meski seringkali para petani diugikan oleh keberadaan tengkulak. Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Hasil panen tetap harus dijual dan hanya para tengkulak yang bisa mengantarkan hasil-hasil panen mereka ke kota.

Pada akhirnya, pola semacam itu secara perlahan telah menjadi sistem yang mengakar di masyarakat. Petani berujung menjadi kelas yang selalu tertindas. Terbelenggu oleh sistem yang tercipta.

Mereka tak bisa menjual langsung hasil panen ke pasar, tetapi harus melulu melalui tengkulak. Dan tengkulaklah yang memainkan harga. Meski harga cabai melebihi harga daging. Bagi petani tetap saja tak berdampak apa-apa, sebab untuk urusan harga, petani hanya bisa pasrah menerima.
Cukup disayangkan akses kereta api Ciwidey-Bandung tak digunakan lagi. Padahal dulu keberadaanya sangat menguntungkan para petani. Mengangkut hasil bumi dan membuka akses seluas-luasnya untuk bertransaksi langsung dengan warga kota.

Dahulu, stasiun Ciwidey adalah tempat persinggahan pertama bagi para petani pergi mengais rejeki ke kota. Kini lebih mirip dengan bangunan usang layak gusur. Jembatan jalur kereta hilang fungsi, beralih fungsi menjadi jalur penghubung desa yang kerap dilintasi kendaraan roda dua.

Si Gombar tinggal nama dan cerita. Jalur dan stasiunnya tak terurus. Menunggu lapuk di makan usia. Keberadaanya kini bagai aset yang tak lagi bernilai. Pada akhirnya menjadi terbengkalai.[]

KOMENTAR

Perantauan, kadang naik gunung. Tinggal di Ciwidey.

You don't have permission to register