Fb. In. Tw.

Keroncong dan Perut: Sebuah Penjelimetan

Memang benarlah. Patut diacungkan jempol. Keempat jempol saya juga sebenarnya masih kurang kalau dijadikan penghargaan para pendekar-pendekar musik subkultural ini. Sebenarnya hal ini gak sepenuhnya jadi tugas mereka. Tugas mahasiswa itu ya belajar, bikin skripsi, dan lulus dengan nilai cum laude biar gampang masuk perusahaan yang huruf awal namanya ditulis dengan huruf kapital sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia. Maka dari itu, keempat jempol saya pun masih kurang kalau untuk jadi penghargaan mahasiswa-mahasiswa ini.

Periodicly mahasiswa-mahasiswa Seni Musik UPI ini selalu melanjutkan semangat berkeroncong secara estafet. Mahasiswa baru yang masih plengak-plengok diajak sama senior-senior gondrong untuk memilih unit kegiatan mana yang dikiranya cocok buat mereka. Nah, unit kegiatan jurusan musik itu salah satunya ya keroncong itu.

Masih menyisakan imut, mereka diberikan suplemen teknis bermusik dan tentunya suplemen idealisme agar apa yang mereka tekuni itu selanjutnya bukan hanya sekadar bisa betot-betoti cello, ngocok-ngocok cuk atau metik senar bass yang segede indomie. Tetapi juga untuk menumbuhkan sikap nasionalis di tengah-tengah gempuran budaya pop yang masif berkampanye dengan lirik-lirik cinta dan airmata.  Lirik yang ditawarkan seperti “Sepasang Mata Bola”,  “Bengawan Solo”, atau “Selendang Sutera” dan “Sapu Tangan dari Bandung Selatan” yang liriknya heroik dan penuh ketabahan.

Jadi, kalau saya jadi presiden dengan gaya kepemimpinan Kim Jong Un, saya akan menggantung orang-orang yang masih bilang kalau “Aduh, perut guwe keroncongan nih. Tadi gak makan sahur sih. Kita ke warung tegal aja yok?”  Bagaimana mungkin, keroncong sebagai instrumen nasionalisme disama maknakan dengan keadaan lapar yang harus diisi sementara Ramadhan sedang berkumandang. Ta’ lapori satpol PP baru tau rasa sampeyan ya! (Eh, guwe kan lagi jadi Kim Jong-un)

Acara keroncong di UPI kalo dihitung-hitung tergolong rutin digelar. Baik yang berbayar maupun gratisan seperti acara yang saya saksikan dua hari sebelum bulan puasa. Saya tahu, kelompok Midaleudami itu kelompok keroncong baru di upi. Tapi selang satu atau dua tahun udah muncul lagi kelompok keroncong yang namanya Badami dan Ranisinar.

Maka, sejajarlah mereka dengan kelompok keroncong yang sudah lama bertengger di UPI semacam de’ Oemar Bakri, dan Lapis Legit. Mereka juga sudah pasti dijamin ditahun yang akan datang, mereka akan mengorbit ke Solo untuk menghadiri Festival Keroncong Solo dengan skala nasional. Semoga ekstensi mereka tetap bertahan dan meneruskan para pendahulunya seperti Mbah Gesang, Bu Lik Sundari Soekotjo, atau Bu de Waljinah.

Gak tanggung-tanggung lho! Acara  Kerokan (Keroncong Pendidikan) yang menghadirkan Endah Laras yang pernah main Opera Jawa arahan sutradara Garin Nugroho di Belanda. Sengaja dia datang ke UPI untuk bermain di hadapan masyarakat UPI dengan tujuan “melestarikan” musik keroncong sampai ke sudut bumi terdingin seperti Bandung sekalipun. Tapi, kok melestarikan ya. Begitulah MC mengulang-ulang pernyataan itu seperti sajak penyair yang saya lupa namanya. Mas, bukannya melestarikan itu adalah upaya kelompok Green Peace menjaga harimau Jawa agar terhindar dari kepunahan?

Lho, siapa bilang keroncong punah? Dibanding harimau Jawa, keroncong tetap ada dari zaman mas Londo bikin jalan pos sampai zaman password Facebook mas Londonya di-hack.

Dari sinilah, saya tiba-tiba seperti punya nilai A+ waktu belajar pragmatik di perkuliahan jurusan bahasa dulu. Istilah itu dinilai tidak tepat untuk mewakili tujuan setiap pementasan keroncong yang digelar di UPI. Berulang kali kata itu diucapkan, akhirnya meninggalkan kesan bahwa keroncong jadi semacam monumen kebanggaan atau monumen peratapan.

Terlebih dipentaskan di samping museum UPI yang lampunya warna-warni, syukur-syukur dianggap sebagai monumen kebanggaan karena selanjutnya masyarakat yang mencintai keroncong secara melesap menjadikannya sebagai instrumen nasionalisme. Atau khazanah kekayaan budaya indonesia yang dari zaman nenek moyang senangnya mengasimilasi beberapa tradisi menjadi sebuah tradisi baru yang orisinil.

Nah, kalo dianggap sebagai monumen peratapan, tujuan keroncong sebagai instrumen nasionalisme akan gugur. Lha, meratapi itu pasti kalo dalam suasana sedih, mengenang, dan sedikit loyo. Kalo demikian jadinya, setiap pergelaran keroncong itu seperti berziarah ke makam leluhur, lantas merapalkan mantra sambil menyaikan sesaji agar ritualnya semakin diterima “Yang disana”.

Sedikit jauh, sebenarnya sistem-lah yang mesti digubah. Beberapa kali keroncong seolah-olah dianak-tirikan dari telinga masyarakat kita. Penyebabnya bisa dibilang karena kalah bersaing dengan musik-musik pop yang berseliweran. Tetapi, eksistensi keroncong kita bisa dikembalikan kok. Tapi bukan hanya revitalisasi semata ya.

Menurut Franki Raden ada tujuh pelembagaan kreativitas: 1) Pemisahan komponis dengan pemain sehingga disusul penciptaan figur komponis; 2)Pembakuan karya musik dengan tuangan notasi; 3) Pementasan musik dari berbagai kalangan apresiator; 4) Musik dikomoditikan berorientasi pasar; 5) Pembahasan estetika musik keroncong; 6) Formulasi pendidikan musik di Perguruan Tinggi; dan, 7) tekstualisasi pertunjukan musik dalam media massa*.

Tapi, menilik nukilan Om Franki, kita justru melewati urutan nomer 4. Waduh gimana ini? Padahal nomer lainnya sudah benar dilakukan oleh pejuang-pejuang keroncong kita.

Maka dari itu, Mbak Endah, Mas-mas UPI yang senang keroncong, sudah bagus lho program regenerasi keroncong untuk menyebarkan isme positif bagi bangsa kita yang kaya budaya. Menurut saya keroncong bukan lagi sebuah pelestarian. Tapi, seperti halnya konser-konser lainnya yaitu mengukuhkan eksistensi nasional yang tidak akan mati, sekalipun budaya lain melindas-lindas dengan budaya K-pop dan pengulangan lirik “Guwe Kece” yang bunyi-nya desak-desakan itu lho. Keroncong juga kece kok, wong dengan sendirinya bisa main di perut (untung sedang jadi Kim Jong-un).

Eh, nilai pragmatik saya bukan A+ lho! Maaf ya.

 

*Dikutip dari Jurnal Kalam edisi 2 halaman 6 dengan judul tulisan Dinamika Pertemuan Dua Tradisi

KOMENTAR

Rendra Wicaksono lahir di Bandung 1992. Belajar di Universitas Pendidikan Indonesia dan Teater Lakon UPI. Kini, bergiat di Shocking Rajah Performing Arts sebagai Aktor dan pendamping literasi. Menulis beberapa fiksi.

You don't have permission to register