Fb. In. Tw.

Kalau Tidak Menghentakkan Kaki, Ya Memberat-beratkan Suara: Suatu Subjektivitas Pendengar

Ini memang terjadi. Sama sekali tidak bisa dipungkiri, kalau setiap lomba baca puisi, pesertanya melakukan hal yang sudah jadi judul di tulisan ini. Kebiasaan ini, seperti kebiasan merokok atau memesan ojek online yang hanya mati jika ingin meninggalkannya.

Di salah satu kota kecil yang menjadikan tauco sebagai buah tangannya, memang minat masyarakat mengikuti Lomba Baca Puisi Piala Rendra (LBPPR) sangat menggebu-gebu. Setelah Bandung, inilah kota yang paling banyak pesertanya. Dua hari saya mengamati dan sekitar 100 orang yang terlibat. Kalau tidak salah, 70 orang adalah kategori pelajar dan sisanya umum. Barangkali, akses ke gedung tempat pelaksanaanya yang mudah mengakibatkan cukup banyak orang yang tertarik dengan perlombaan ini. Tidak, saya tidak akan menyebutkan ojek online lah yang memudahkannya.

Di Gedung kesenian kecil yang sedang dipugar, lomba dilaksanakan. Panggung luas dipenggal hingga yang tersisa ¼ bagian saja. Level berbaring di tengah panggung. Lampu halogen 120 watt terpasang ditengah. Di belakang panggung, latar tirai berwarna hitam memberi kesan sunyi dan kosong. Maka, pembacaan puisi para pesertalah yang mengisi kekosongan dan kesunyian yang menjuntai itu.

Saya memang penikmat puisi. Baik dibaca sendiri atau dibacakan oleh orang lain.

Puisi yang dibaca di dalam hati, yang didendangkan dengan nafas sendiri, akan lebih bisa dimaknai. Bagi pembaca yang memiliki kepekaan yang tinggi, ketika membaca puisi “Kangen” milik WS. Rendra pasti akan galau seminggu-dua. Seperti dilumpuhkan sepi dan ketakutan. Atau bisa menjadi heroisme Joki Tobing yang menghadapi padang pengangguran dengan tenang karena Widuri: pelangi di cakrawala. Sayangnya tidak ada lomba baca puisi di dalam hati. Lagipula, hati bukan untuk diperlombakan. Yah…

Puisi yang dibacakan oleh orang lain juga bisa dimaknai para pendengarnya. Masih dengan puisi yang sama, jika seseorang membaca “Kangen”, maka orang itu benar-benar Kangen. Memberikan proyeksi pada membayangkan wajahmu adalah siksa dengan teriakan. Ada yang sampai urat lehernya terlihat. Mampu ditebak oleh pendengar, pembaca memang kekasih yang sedang menderita kangen –dan barangkali dia posesif makanya teriak-teriak begitu. Itulah sebabnya ia ditungku tanpa api-kan.

Sempat juga kaget ketika salah satu kaki pembaca dihentak-hentakan demi kepentingan darah yang bercampur arak. Yoho yang di serak-serakan dan diberat-beratkan suaranya yang bisa jadi dimaknai sebagai derita atau semangat tempur yang suci oleh para penonton. Ada pula Kesepian seperti sepatu besi tiba-tiba ramai oleh hentakan kaki dan gestur tubuh yang terlalu ramai jika menganggap dirinya kesepian. Sepi lalu kehilangan bunyinya sendiri.

Puisi yang dibacakan memang menjadi karya yang baru. Tafsir pembaca melahirkan gestur, mimik, intonasi, pungtuasi, yang baru. Kekuatan makna puisi dipertaruhkan oleh tubuh si pembaca sebagai alat/media penyampainya. Sayangnya, para pembaca banyak yang tidak menyadari pertaruhan ini. Kerja kreatifnya kadang menghancurkan makna puisi yang dijaga oleh rima, gaya bahasa, metafora dan unsur-unsur puisi yang lainnya.

Adanya proses telaah struktur puisi—yang dibaca didalam hati—adalah salah satu cara agar puisi yang dibacakan tidak menyimpang maknanya. Membaca puisi bukan sekadar memberat-beratkan suara atau gerakan hentak kaki yang kadang-kadang bikin samar vokal pembacanya sehingga puisi tidak sampai ke penonton dengan baik.

Membaca puisi adalah juga membacakan beban makna yang terkandung dalam puisi itu sendiri. Selanjutnya, tinggal bagaimana kita menyampaikan beban makna dalam puisi tanpa merasa terbebani. Sebagai contoh; suara yang diberat-beratkan itu. Terasa benar beban puisi itu dalam diri pembaca karena gestur dan mimiknya kadang tidak koheren. Belum lagi tubuh kaku yang tidak enak dilihat dari bangku penonton. Melambaikan, menjulur, mengangkat tangan betapa sangat tanggung dan terlihat mekanis. Bahu pun jadi penentu jika ingin menggunakan tangan sebagai penguatan makna penyampaian puisi.

Pemula yang mahir dan Si Tua yang Perlu Berlatih

Kadang-kadang bakat menentukan kebagusan pembaca puisi. Tidak mampu saya menahan tepuk tangan ketika anak usia SD
mampu membacakan puisi dengan lantang dan jujur. Tidak perlu membaca puisi Kangen dengan suara yang diberat-beratkan—menambah makna menjadi tidak tentu arahnya. Entah kangen seperti apa yang dia bayangkan sehingga racun dalam darahku yang dibacakannya sampai ke penonton: melemahkan dan membuat mati.

Ada Si Tua yang senang dengan pencarian gaya membaca puisinya. Memesan rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya memang sampai ke telinga penonton secara harfiah. Dibantu sengguk tangis dan posisi duduk yang menciptakan efek terpuruk dan ketidak-berdayaan dirinya. Namun, apakah efek tersebut diperlukan?

Pertimbangan memilih puisi jadi penting. Kalau saya—sebagai penonton boleh memberikan saran sebaiknya: (1) memilih puisi yang sesuai dengan kondisi rasa dan tubuh kita agar mempermudah tafsir yang akan kita bacakan dalam pembacaan puisi. (2) Setiap orang punya pengalaman yang berbeda. Semakin tua, semakin banyak pengalaman maka semakin siap dirinya membaca puisi macam apapun. Kecuali si calon pembaca memang banyak mengalami peristiwa puitik dan mampu menyajikannya sekalipun dirinya masih muda. Namun, ingat itu akan menjadi sebuah pertaruhan. (3) Apakah puisi itu bisa dibacakan, atau lebih bermakna justru ketika dibaca sendiri. (4) Percayalah, menghentak-hentakan puisi atau memberat-beratkan suara tidak selalu jadi pilihan tepat untuk membaca puisi. Sudah aus, usang seperti ojek tidak online.

Tapi semua tergantung kepada para pembaca puisi. Sama seperti bermain drama, yakin adalah kunci kesuksesan membaca puisi.

Baik-baiklah nanti ketika di Bandung![]

KOMENTAR
Post tags:

Rendra Wicaksono lahir di Bandung 1992. Belajar di Universitas Pendidikan Indonesia dan Teater Lakon UPI. Kini, bergiat di Shocking Rajah Performing Arts sebagai Aktor dan pendamping literasi. Menulis beberapa fiksi.

You don't have permission to register