
Jouney to Bandung Purba #3: Batu Karembong Dayang Sumbi
Catatan Andrika Resmiadi*
Batu Karembong Dayang Sumbi di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, Dago Pakar, Bandung, merupakan tujuan Journey to Bandung Purba #3 Rumah Baca Taman Sekar Bandung (RBTSB) pada Minggu (18/1/2014). Seperti dua perjalanan sebelumnya, perjalanan kali ini juga masih merujuk pada buku Bandung Purba yang ditulis oleh T. Bachtiar.
Batu Karembong Dayang Sumbi itu merupakan sebutan T. Bachtiar untuk lava basaltik yang terdapat di Tahura. Lava yang banyak terdapat di Gunung Api Hawaii itu juga dikenal dengan sebutan lava Pahoehoe.
Pada Journey to Bandung Purba #3 RBTSB ini cukup banyak yang turut berangkat, di antaranya Bojes, Adi, Wisnu, Aci, Tantri, Jody, Ariq, Alfa, Utep, Opet, dan saya sendiri. Perjalanan menuju Tahura menjadi terasa seru dengan banyaknya personil tersebut.
Sehari sebelum berangkat ada persiapan sederhana di RBTSB, Jalan Sukarajin II No. 18 Bandung, untuk berburu di Tahura. Ya, cukup sederhana, kami menyiapkan nasi timbel untuk bekal makan siang di sana. Masak nasi dan lauknya kami lakukan pada malam sebelum berangkat, lantaran kami akan berangkat pagi-pagi sekali menuju objek.
Ketika pagi tiba keesokan harinya, nasi di rice cooker tinggal kami bungkus dengan daun pisang menjadi timbel. Sementara lauknya, oseng tahu campur sawi putih, orek tempe, dan sambal dibungkus terpisah.
Tepat pukul 07.00 pagi kami berkumpul di RBTSB , sebelum melakukan perjalanan ada arahan sedikit dari Bojes sebagai inisiator Journey to Bandung Purba mengenai tujuan kali ini. Setelah itu kami berdoa agar perjalanan lancar dan bisa kembali dengan baik pula.
Perjalanan ke Tahura dari RBTSB agak mudah, kebetulan kami dapat menyewa sebuah angkot supaya langsung sekali jalan ke Tahura. Cukup dengan Rp.70.000 kami semua dapat terangkut dalam satu angkot. Angkot yang kami sewa kala itu angkot jurusan Cicaheum-Ledeng.
Kurang lebih setengah jam perjalanan yang diperlukan untuk sampai di Tahura dengan menumpang angkot tersebut. Sampai di Tahura, seratus meter dari Pintu Masuk II, dipenuhi para pesepeda yang rehat setelah mendaki tanjakan Dago Pakar.
Sampai di Pintu II, kami mengurus administrasi dulu di pos tiket. Sebagai pengunjung yang baik kami bayar tiket. Dan, tidak lupa berfoto dulu. Di pintu masuk. Hehe…
Menurut keterangan di papan penunjuk arah yang terdapat di Tahura, buruan yang kami cari tidak dinamai Batu Karembong Dayang Sumbi ataupun Lava Pahoehoe, tetapi ditulis dengan nama “Batu Batik”.
Dari Pintu Masuk II menuju buruan Journey to Bandung #3 jaraknya adalah 3 kilometer lebih sedikit. Lumayan juga perjalanannya buat meluruskan kembali pinggang.
Di Tahura rupanya sedang ada kegiatan Trial Running. Pesertanya mungkin ribuan, kalau melihat nomor pesertanya sih sampai lima digit gitu. Jadi selama perjalanan menuju objek buruan, kami selalu berpapasan dengan para pelari lintas alam.
Kami juga melewati Goa Belanda. Sebenarnya, bisa potong kompas supaya cepat lewat Goa Belanda. Tapi, karena ini perjalanannya agak santai, kami memilih melipir melewati jalan setapak pinggiran goa yang sudah dipasangi paving block.
Perjalanan di Dago Pakar tersebut terasa sangat segar dan menyejukkan. Sepanjang perjalanan pemandangan seakan-akan hanya warna hijau dedaunan. Ada pohon namanya “Mahoni Uganda”, mungkin didatangkan dari hutan tropis di Afrika.
Di kanan kiri, kami juga dapat melihat tebing-tebing menjulang. Di antaranya, di sebelah utara atau di sisi kiri dalam perjalanan, ada tebing yang terbentuk dari karst, yang merupakan rangkaian dari Patahan Lembang.
Senda gurau tentu saja hadir sepanjang perjalanan. Ariq yang membawa kamera selalu tertinggal di belakang, karena dia begitu asyik memotret berbagai objek. Objek wisata lain di Tahura yang kami lewati sebelum sampai ke titik tujuan antara lain, Curug Koleang, Penangkaran Rusa, dan Curug Kidang. Namun, kami tidak mampir dulu ke titik-titik tersebut. Hanya lewat saja, fokus ke tujuan ceritanya mah.
Kurang lebih satu jam perjalanan dengan berjalan kaki santai, akhirnya kami sampai juga ke tempat yang dituju. Pengelola Tahura juga sudah memberi tanda dengan papan nama Batu Batik.
Dari tanda papan nama ke objek tujuan, butuh sedikit lagi perjuangan. Kami harus menuruni tangga yang cukup curam. Perlu sangat hati-hati untuk menuruni tangga yang juga lumayan licin itu.
Batu Karembong Dayang Sumbi/Lava Pahoehoe ini berada tepat di pinggir aliran Sungai Ci Kapundung. Batu ini merupakan hasil pembekuan dari lava basaltik letusan Gunung Tangkuban Parahu yang diperkirakan terjadi 50.000 tahun yang lalu.
Pada saat kami tiba, lava tersebut tertutup kotoran dedaunan dan lumpur sehingga perlu dibersihkan supaya dapat dilihat dengan jelas. Kami pun membersihkan lava tersebut dengan air yang mengalir dari Sungai Ci Kapundung. Air diangkut pakai ember dari kresek, secara estafet, sampai lava yang membatu itu benar-benar bersih.
Setelah bersih, maka ketahuanlah Kenapa T. Bachtiar menyebut lava tersebut sebagai Batu Karembong Dayang Sumbi dalam bukunya. Bentuk lava tersebut memang unik, seperti membentuk lipatan ujung-ujung kain. Maka dari itu, T. Bactiar menghubungkan temuan ini dengan cerita rakyat Sangkuriang.
Setelah cukup puas membersihkan, memerhatikan, dan mengabadikan batu lava itu dengan kamera, kami lalu murak timbel di sisi Sungai Ci Kapundung.
Tapi, kami semakin penasaran dengan jejak Bandung Purba lainnya. Kami memang masih akan melanjutkan Journey to Bandung Purba #4. Mau ikut?[]
Penulis, Pegiat Rumah Baca Taman Sekar Bandung
Sumbe foto: Dokumentasi Rumah Baca Taman Sekar Bandung