Fb. In. Tw.

Dramatik Reading “BERCINTA”

Eh, Pertengkaran aktor atau tokoh sih?

Pentas ini hadir di ruang mahasiswa yang sedang sibuk melaksanakan orientasi mahasiswa baru. Lantai satu gedung PKM begitu hiruk pikuk. Naik ke lantai dua dan disitulah pementasan Jalan Teater berlangsung. Bagi saya alienasi terjadi ketika saya yang bukan mahasiswa harus melewati riuhnya aktifitas ospek yang berlangsung di lantai satu dan masuk ke aktifitas yang sering saya sentuh geliatnya di lantai dua.

Bersama sutradara pinunjul FDBS saya lantas masuk ke ruang auditorium PKM. Terdapat segerombolan kursi yang berbaris rapi yang akan diisi penonton. Konsep panggung prosenium pun diamini meski tanpa menghadirkan wing  di kiri-kanan, level sebagai peninggian panggung, dan tata lampu yang membantu konsep pencahayaan. Panggung diseraki koran-koran yang bertebaran di lantai. Meja kotak berdiam di tengah panggung, diatasnya botol-botol air mineral. Dikanan-kiri dua kursi berjejer.

Pertunjukan dibuka dengan Performing Arts dari Faisal Syahreza & Agung Jek. Serupa pengantar umum yang sekonteks dengan Dramatik Reading yang nanti akan berlangsung. Betapa teatrikal dan menegaskan garis siapa penonton dan siapa yang ditonton. Setelah selesai, empat pembaca masuk. Satu cantik tiga tampan duduk dan memperkenalkan diri.

Mulailah aktor/tokoh: Sardi (Dea) Mail (Willy) dan Chandra (Fuad) dan Nira (Inggri) memperkenalkan diri. Sardi membacakan sinopsis yang sebelumnya –ketika menunggu terlihat telah dibaca penonton di flyer. Waktu bergulir dan Dramatik Reading dimulai. Seorang lelaki membawa kamera hadir dan keluar secara bebas mengabadikan situasi di dalam panggung. Diketahui bahwa ia bukan tokoh dalam pementasan.

Pembaca mulai bicara disertai blocking dan moving. Cerita mengalir dan penonton digiring ke tangga dramatika. Hampir sampai di puncak tangga penonton diberhentikan dengan sesuatu yang diluar tangga. Disinilah alienasi mulai menampakan diri.

Diperjalanan menuju klimaks Fuad dan Inggri hadir meninggalkan Chandra dan Nira. Mereka bertengkar dan saling berteriak seperti apa yang harusnya mungkin terjadi di antara Chandra dan Nira. Willy dan Dea pun mulai datang. Membelah pertengkaran mereka yang mulai memakan waktu dan mengganggu mood penonton. Percekcokan semakin sengit. Melayanglah lengan Inggri ke pipi Fuad sehingga Kenny (Produser Pentas) masuk dengan lengan terlipat.

“Ada apa ini? Lanjutkan membaca, bukannya bertengkar!” dalam bahasa Sunda.

Empat orang itu diam. Juru foto tetap mengabadikan momen meski sembunyi-sembunyi. Tetapi sutradara seperti ikut tersulut. Sendalnya melayang ke arah para pemain. “Lanjutkeun anjing!”. Penonton kebingungan tentang yang terjadi di panggung. Dari mereka ada yang sedikit tertawa karena mungkin menyadari apa yang dilakukan adalah akting. Panggung sempat sepi tapi segera dipecahkan oleh dramatik reading yang segera berlanjut hingga selesai sesuai dengan naskah. Tepuk tangan meriuh.

Maka, demikianlah kerja kerabat Jalan Teater yang mementaskan naskah “Bercinta” karya sutradara Zulfa Nasruloh. Setelah naskah ini diracik konvensional pada peringatan ulang tahun AJI di Jakarta, Zulfa menawarkan kemungkinan baru dengan menggiring gagasannya ke bentuk Dramatic Reading. Dramatic Reading sendiri telah dipopulerkan oleh program IDRF: Indonesia Dramatic Reading Festival sebagai ruang pembacaan naskah-naskah lakon berbahasa Indonesia sebagai upaya untuk mengenalkan naskah-naskah lakon berbahasa Indonesia kepada publik yang lebih luas (Press Raelease IDRF 2012).

Sari kisah, “Bercinta” mengisahkan tentang tim reporter “TV Satu” yang akan melakukan peliputan di Porong Sidoarjo. Bencana lumpur telah menimpa wilayah itu hingga bertahun-tahun dan telah ditetapkan sebagai bencana nasional. Di tepi lain, Candra adalah Producer Field peliputan itu membawahi dua kawan dan satu kekasihnya, Nira, yang tidak lain adalah presenter. Candra memutuskan dirinya akan membuat berita palsu, –setelah diperintah oleh atasannya menyiarkan bahwa warga porong telah mendapatkan bantuan dari perusahaan Bokri. Kebusukan itu ditolak oleh Nira yang menganggap Candra yang tidak jujur telah salah menentukan langkah sama seperti ia menghamili Nira dan banyak alasan untuk menunda ikatan pernikahan. Demikianlah, motif dua pikiran yang mewarnai pertengkaran mereka.

Kalimat dalam flyer pengantar pertunjukan pun cukup menjadi pesona. Mengamini “Sesuatu yang dimulai dengan kesalahan akan tetap menjadi kesalahan” teks Bercinta –dengan defamiliarisasnya sedikit merepresentasikan keburukan cara pihak “PT. L” bertanggung jawab terhadap korban semburan lumpur di segenap kecamatan.

Kehadiran Alienasi Di Tengah Konvensi
Teater adalah kerja yang mengandalkan letupan-letupan baru yang akan menjadi bahan renung sejauh sajiannya bisa dinikmati atau tidak oleh khalayak. Banyak subjektivitas sepakat bahwa teater ialah seni komunal yang memadu-padankan tema-naskah dan teknis pertunjukan agar menjadi daya tawar bagi penonton untuk menyerap peristiwa di tengah panggung. Agar mendapatkan suatu ciri khas dibutuhkan kerja research and compare sebanyak-banyaknya.

Bercinta memunculkan alineasi yang di tengah-tangah penonton konvensional teater kita menjadi letupan ditengah-tengah datarnya presentasi dramatik reading di panggung. Memang demikianlah dramatik reading. Alih-alih mengandalkan subteks, aktor senior sekalipun bisa saja tersandung garis monoton. Itu sebab, beberapa Dramatic Reading yang saya hadiri banyak mengandalkan teknis-teknis pertunjukan seperti cahaya, sedikit set panggung dan musik agar penonton selamat dari rasa kantuk.

Tujuan pementasan ini barangkali: Ya mengenalkan naskah baru dan ya sebagai pementasan yang menawarkan konsep alienasi.

Tetapi di tengah-tengah kontruksi panggung yang tidak konvensional, bentukk alienasi yang dibangun Sutradara dan aktor bahkan produser terkesan hanya mampir. Penonton belum sempat menikmati atmosfir lain dalam dimensi pementasan. Padahal, alienasi bisa menjadi Teknologi Pesona yang menegaskan dimensi teknis sekaligus gagasan dalam teater1.

Mampu dibayangkan ketika alienasi total terjadi. Misalnya, dibangun sejak diluar gedung pementasan dengan memanfaatkan hiruk-pikuk penerimaan mahasiswa baru. Lalu ketika penonton sampai di lantai dua mereka seperti disambut oleh para pekerja media berita. Setidak-tidaknya yang menyambut itu dikalungi oleh tanda Pers. Kemungkinanya, penonton akan menganggap ini hanya gimmick semata tanpa tahu bahwa mereka pun terlibat dalam pementasan yang sudah disiapkan oleh sutradara dan aktor.

Misalnya lagi, seharusnya panggung mungkin tidak hirarkis dengan menghancurkan prosenium menjadi gelar arena yang mampu berinteraksi lebih dekat dengan penonton. Lalu betapa menarik ketika alienasi disodorkan pada penonton dengan cara melibatkan mereka ke dalam situasi pertengkaran Chandra&Nira atau Fuad& Inggri. Penonton yang megap-megap pasti merasakan pengalaman lain dalam menonton teater. Terjadi keberdayagunaan pengalaman secara langsung. Mental penonton dilibatkan secara intensif agar memahami situasi yang terjadi di tengah arena. Akhirnya pengalaman itu akan menggiring penonton ke Peningkatan Intensitas Pengalaman2 di mana mereka tidak akan pseudo memandang suatu keindahan, keburukan, gembira maupun sedih. Seperti sihir yang nyata! Penonton berhak digiring masuk dan keluar dalam alienasi tersebut. Berhak terusik dan memberi nasihat, dakwaan, kekesalan, atau banyolan ketika Inggri secara kasar menampar Fuad dan sebagainya (atau Chandra dan Nira).

Jika demikian proses latihan pun tidak melulu terpaku pada naskah atau tafsir tunggal sutradara. Dalam hal ini –Dramatik Reading naskah akan menjadi wacana awal yang mengantarkan aktor, sutradara, penonton, dan lain-lain menuju proses peningkatan pengalaman mental. Barangkali naskah pun akan berkembang ketika kuasa pencipta diinterupsi dan penulis yang bijak akan menjadikan hal tersebut sebagai proses kreatif.

Demikianlah tulisan ini dibuat agar perundingan dalam inovasi seni terus terjadi. Tidak percaya?[]

  1. Alfred Gell, The Power of Theatre dalam tulisan Lono Simatupang dalam Sarasehan Teater Yogya, 2014.
  2. Lono Simatupang dalam The Power of Theatre tulisan Lono Simatupang dalam Sarasehan Teater Yogya, 2014.
KOMENTAR

Rendra Wicaksono lahir di Bandung 1992. Belajar di Universitas Pendidikan Indonesia dan Teater Lakon UPI. Kini, bergiat di Shocking Rajah Performing Arts sebagai Aktor dan pendamping literasi. Menulis beberapa fiksi.

You don't have permission to register