
Cerita buat Nadiem Makarim
Euforia peringatan Hari Guru—dalam bentuk berbagai macam ucapan selamat dan poster di media sosial—belum surut juga ketika saya menemukan satu puisi Hartojo Andangdjaja, “Dari Seorang Guru Kepada Murid-Muridnya”, Senin (11/25/2019) pukul 22.25 WIB.
Puisi yang terpacak di halaman 118 Kumpulan Puisi (1945-1976) terbitan Kakatua (2019) ini, pertama kali saya baca lebih dari satu dasawarsa silam, entah lewat stensilan di Sanggar Sastra Tasik (SST) atau di buku pelajaran Bahasa Indonesia tingkat SMA yang saya temukan di Pondok Pesantren Terpadu Nurul Amanah, tempat saya belajar 6 tahun lamanya.
Dan seperti saat pertama kali membacanya, puisi itu masih saja mengharukan.
Apakah yang kupunya, anak-anakku/selain buku-buku dan sedikit ilmu/sumber pengabdianku kepadamu//Kalau di hari Minggu engkau datang ke rumahku/aku takut, anak-anakku/kursi-kursi tua yang di sana/dan meja tulis sederhana/dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya/semua padamu bercerita/tentang hidupku di rumah tangga
Berbulan-bulan lalu, sebelum Nadiem Makarim jadi menteri dan menyampaikan pidato, Nero Taopik Abdillah, pengajar SDN 2 Cikuya, Culamega, Tasikmalaya, sudah bercerita betapa rutinitas membuat guru-guru di sekitarnya menjadi stagnan.
“Bayangkan, guru-guru SD itu puluhan tahun mengajari para siswa pelajaran yang sama. Gaji tak seberapa, dan tiap kali pulang ke rumah langsung dihadapkan pada urusan rumah tangga serta keharusan menyelesaikan hal-hal administratif dari sekolah. Membaca adalah barang mewah bagi mereka,” kata Opik, panggilan akrab pegiat Komunitas Ngejah tersebut.
Stagnasi memang persoalan, lebih-lebih jika regulasi ikut andil terhadapnya. Namun demikian, mengajari para siswa hal sekecil apa pun juga tak bisa dipandang sebelah mata. Saya percaya, memberi penghargaan setinggi-tingginya terhadap para guru semacam itu tak akan sebanding dengan jasa-jasa mereka. Naasnya, alih-alih tinggi, penghargaan level menengah pun tampaknya kurang diberikan pemerintah.
Ketika aktivitas tulis menulis membuat saya mendapatkan pekerjaan, saya teringat Bu Entin, guru SD yang menyemangati saya ikut lomba mengarang tingkat kecamatan. Menjelang kelulusan, ibu dua anak ini mengingatkan, “Sesukses apa pun kalian, jangan lupa guru SD. Merekalah yang mengajari kalian membaca, menulis, dan berhitung.”
Bu Entin, saya yakin, bukan sosok yang haus puja-puji. Sebab itulah nasihatnya pada kami, meski sekarang belum sukses-sukses, adalah sebaik-baiknya pesan agar kami tidak jadi kacang lupa kulit dalam segala situasi.
Sebelum menemukan kembali puisi Hartojo, jujur saja, hati saya kadung basah mendengar lagu “Terimakasih Guruku (Guruku Tersayang)” lewat postingan sejumlah teman di media sosial. Untunglah Melly Goeslaw, pencipta lagu itu, terkesan mendedikasikan karyanya buat guru TK atau guru SD. Saat ini, saya akan keberatan jika lagu itu dihubung-hubungkan dengan dosen. Lebih-lebih dosen yang membuat saya muntab beberapa waktu belakangan.
Persoalan dan Tantangan Rumit
Sekira dua-tiga bulan lalu, pacar saya, sebut saja Anna, bercerita bahwa dia diminta membantu dosennya menulis jurnal. Sebagai fresh graduate, Anna menerima tawaran itu. Toh belum wisuda dan belum punya pekerjaan juga. Selain buat menambah portofolio, saya kira amat manusiawi jika tawaran itu diterima dengan mempertimbangkan aspek fulus.
Penelitian itu seharusnya dikerjakan dua dosen. Anna diperbantukan sebab satu dosen—sebut saja Si Senior yang berperan sebagai ketua peneliti—tak menggarap bagiannya. “Beliau cukup dapat nama saja, masalah upah nanti saya atur,” kira-kira demikian pernyataan Pak Dosen Junior, meyakinkan Anna agar ikut serta dalam proyek penelitian itu.
Setelah mengerjakan bagiannya—Bab IV Penelitian—Anna menagih upah. Harapan dapat uang, paling tidak 3 juta rupiah, luntur sudah saat dia hanya menerima separuhnya.
“Lha, kan itu juga lumayan?” komentar saya.
“Masalahnya, aku mengerjakan dua penelitian. Dan masing-masing penelitian, seingatku, anggarannya 10 juta-an.”
Pada kasus ini, Anna sulit menyalahkan Pak Dosen Junior yang mengiming-iminginya upah, sebab selain sejak awal tidak ada kejelasan mengenai nominal—sehingga Anna sempat menganggap ekspektasinya berlebihan—Dosen Junior ini juga bingung lantaran uang penelitian diurus langsung seniornya. Ia tak punya kewenangan apa pun dalam urusan genting ini.
“Saya kira tidak akan begini kejadiannya. Ibu Anu malah dapat jatah juga sebab dianggap turut membantu mengurusi laporan keuangan. Pun, teknisnya, laporan itu saya jugalah yang menyelesaikannya,” terang Pak Dosen Junior.
Tak lama, Anna menerima penjelasan yang ‘lebih rasional’. Pagu anggaran untuk pembantu peneliti setingkat Fresh Graduate memang sebesar 750 ribu rupiah. Mendengar itu, tanggapan saya juga tak kalah rasional. “Kalaulah pembagian upahnya berdasar pagu-pagu begitu, ya kasih beban kerja yang proporsional juga!”
Tapi sudahlah, di bagian ini, saya ingin betul menunjukkan baris terakhir puisi Hartojo Andangdjaja.
Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita/depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja/—horison yang selalu biru bagiku—/karena kutahu, anak-anakku/engkau terlalu muda/engkau terlalu bersih dari dosa/untuk mengenal ini semua
Hartodjo, penyair panutan saya, menulis puisi di atas pada 1965. Pengalamannya sebagai guru Bahasa Indonesia SMP di Solo serta SMP dan SMA Negeri Simpangempat, Sumatera Barat, tampaknya menjadi ilham terbesarnya saat menuliskan puisi itu.
“Tubuhnya kecil dan kurus seperti orang yang menderita sakit. Tetapi ada kerapian dalam penampilannya yang sedehana—kerapian yang juga nampak dalam puisi dan prosanya,” tulis Goenawan Mohamad dalam pengantar Dari Sunyi ke Bunyi: Kumpulan Esai tentang Puisi karya Hartodjo Andangdjaja (1991).
Meski pemerintah telah menggalakan berbagai program demi meningkatkan kesejahteraan para guru, gambaran kehidupan guru yang sederhana (ini eufimisme dari serba kekurangan) seperti dalam puisi Hartodjo, rasa-rasanya masih relevan dengan situasi sekarang. Cerita dari Opik bisa menjadi salah satu bukti. Pun di lain sisi, apa yang dialami pacar saya adalah tragedi.
Meski sama-sama punya tanggung jawab memanusiakan manusia—konon itulah esensi pendidikan—guru memang lain dari dosen, toh? (Lebih-lebih Dosen Senior dalam pengalaman tragis pacar saya).
Saya tidak hendak menempatkan guru dalam posisi yang romantik dan suci, atau dalam situasi vis a vis dengan dosen. Saya hanya tak kuasa memendam perasaan saat menerima informasi mengenai kondisi guru di pelosok berbanding terbalik dengan perilaku dosen di sebuah universitas yang mencetak para pendidik.
(Tenang, saya juga sadar kok bahwa nasib dosen yang serupa dengan nasib aku-lirik dalam puisi Hartodjo Andangdjaja tak sedikit jumlahnya).
Untuk itulah lewat tulisan ini saya ingin menyampaikan kepada Pak Nadiem: betapa di tengah berbagai persoalan yang membuat negeri ini tampak terpuruk, sosok-sosok yang punya tanggung jawab membina sumber daya manusia justru terang-terangan memperburuk suasana?
Jawabannya tentu beragam dan rumit. Dan setelah pidato Bapak viral, saya berharap dalam kapasitas sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Pak Nadiem Makarim bisa memberikan solusi konkret.[]