Fb. In. Tw.

Belajar pada India

Jika kita cermat, mudah sebenarnya melihat bagaimana dunia hari ini berlangsung. Seni atau sebuah karya selalu memiliki ruang kritis bagi zamannya. Tulisan ini bisa saja disebut sebagai asumsi. Tapi saya akan paparkan beberapa fakta hingga kita bisa melihat seberapa benar asumsi ini menafsir kebenaran yang terjadi.

Sebagaimana kita tahu, dalam khazanah perfilman Hollywood, untuk mewakili Asia, sebagai dalih pluralitas dunia, China dan Jepang selalu menjadi negara perwakilannya. Warna kulit yang putih dengan rambut hitam dan mata oriental, menciptakan kontras yang baik di dalam layar televisi. Itu cukup memberikan ruang bagi penonton Asia untuk bangga dan merasa entitasnya terwakili di dalam film tersebut.

Hal tersebut tentu saja berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan di segala sektor. Bukan hanya film, tapi juga iklan, produk, kampanye sosial, musik, kuliner, dsb. Apakah alasannya karena China dan Jepang adalah Negara maju? Entahlah. Tetapi yang jelas begitulah apresiasi Barat terhadap kedua negara tersebut.

Tapi coba perhatikan beberapa film dan musik akhir-akhir ini. India muncul dengan sangat hebatnya. Dalam film Martian (2015), yang bercerita tentang tema luar angkasa, India muncul sebagai perwakilan astronot dari Asia. Meski adegan tersebut hanya bersifat flash back tapi astronot perempuan dari India di dalam film tersebut nampak dalam frame yang mengangkat India sejajar dan terhormat dengan negara maju lainnya.

Astronot perempuan tersebut mengingatkan kita pada astronot India pertama yang juga seorang perempuan bernama Sunita Williams. Lahir dengan darah India-Slovenia menginjakkan kakinya ke bulan pada Juni 2007. Ia memegang rekor perempuan dengan perjalanan angkasa terlama yakni 195 hari dan berjalan di luar angkasa selama 29 jam 17 menit. Maka figur perempuan di dalam film Martian dapat dikatakan sebagai apresiasi atas fakta tersebut di atas.

Pada bulan Juli 2015, muncul lagu dari Major Lazer berjudul Lean On. Lagu ini bernuansa musik dari India dan menghebohkan dunia. Latar video klip musik tersebut berada di beberapa tempat di India. Ditampilkan tarian India, pakaian, beberapa lanskap arsitektur, dan kota, serta aktivitas masyarakat India. Lagu ini berhasil memunculkan India sebagai kultur segar dengan nuansa (bunyi, gerak, dan rupa) yang khas.

Sejalan dengan itu, Coldplay dengan lagu terbarunya berjudul Adventure of Lifetime memang muncul dengan video klip yang tidak berbau India. Tetapi unsur musiknya menggunakan nada musik India terutama melodi gitarnya. Hal itu diperkuat aksi panggung Coldplay saat membawakan lagu tersebut secara live. Lagu tersebut dibawakan dalam latar panggung India. Ia memberikan untaian bunga khas India, di belakang backstage dan di seluruh perangkat musiknya.

Selain itu, akhir-akhir ini saya melihat sebuah kerja budaya yang menarik dari seorang penyanyi dari India bernama Vidya. Vidya adalah juga nama panggungnya. Vidya menampilkan sebuah mashup atau campuran dua lagu dalam satu karya. Ia meng-cover lagu-lagu barat yang terkenal dengan mencampurnya dengan lagu-lagu India terkenal. Di Youtube, Vidya dikenal sebagai coverian dengan penonton yang cukup banyak. Setara dengan artis Youtube lainnya semisal Hannah Trigwell dan Luciana Zoughbi.

Karya mashup Vidya dapat dikatakan unik dan cerdas. Sebab ia mencari persamaan dua khazanah musik yang berbeda. Musik timur khas India yang menempatkan nada-nada minor dan mendayu berkolaborasi dengan musik barat yang seperti kita tahu berada pada nada-nada mayor. Karya-karya Vidya yang berhasil memadukan dua khas musik tersebut di antaranya lagu India Jind Mahi karya Sunidhi dengan lagu Lean On karya Major Lazer, Mental Manadhil karya Jonita Gandhi dengan lagu Blank Space karya Taylor Swift, dll. Lagu-lagu tesebut dibawakan dengan porsi yang berimbang.

Beberapa contoh di atas adalah contoh bagaimana barat mengangkat India. Entah berkorelasi secara langsung atau tidak, di dalam industri film India memiliki riwayat yang membanggakan. India memiliki industri film Bollywood yang berkembang dengan pesat. Beberapa filmnya mampu mengeskpansi pasar Asia, Eropa, dan Amerika, dengan ciri khas yang selalu dipertahankan, yakni nyanyian dan tarian.

Sebagaimana yang disebutkan tokoh terkenal disiplin poskolonial Homi K. Bhabha, seorang professor dari India yang juga merupakan direktur Pusat Studi Kemanusiaan di Universitas Harvard, negara bekas jajahan selalu menderita tiga kompleks masyarakat. Tiga kompleks tersebut terjadi sebab pergulatan negara tersebut dengan negara penjajahnya.

Negara bekas jajahan biasanya meniru negara jajahannya atau mengidap kompleks mimicry. Juga memiliki kompleks hybridity dimana kebudayaan mereka adalah campuran dari kebudayaan penjajahnya. Yang terakhir, adalah kompleks ambivelensi. Kompleks tersebut merupakan komleks yang paling merugikan, sebab sikap inferior masyarakat negara bekas jajahan yang lebih membela negara jajahannya dari pada negaranya sendiri.

Ambivalensi di Indonesia misalnya selalu menempatkan produk asing sebagai barang yang lebih prestisius. Harga secangkir kopi hitam bisa naik dua kali lipat jika dijual dengan nama Black Coffe. Sebuah lagu berbahasa Inggris lebih digemari dan digandrungi daripada kawih di Cianjur misalnya. Pakaian dengan mode barat akan menjadi lumrah dipakai di jalanan daripada menggunakan kebaya atau batik. Seolah kedua baju tersebut hanya pantas digunakan pada acara-acara tertentu saja, dan tidak menempatkannya sebagai baju yang keseharian.

Jika belajar pada India, industri film India selalu menampilkan tokoh-tokoh dengan busana dan aktivitas adat India yang terjaga. Hal itu tentu sejalan dengan aktivitas masyarakatnya dan film sebagai produk budaya tidak menegasinya. Seperti juga karya Vidya yang mencampur musik India dengan bahasa Hindi dengan bahasa Inggris, mencoba mengangkat bahasanya sendiri.

Indonesia dan India adalah negara yang sama-sama pernah terjajah. Namun perbedaan perkembangan kedua negara tersebut sangat nampak. Di sini, saya tidak bermaksud mengatakan negara kita tidak berkembang, tetapi masyarakat kita masih banyak yang tidak bisa terlepas dari paradigma kebarat-baratan yang akhirnya melupakan lokalitasnya yang kaya dan berpotensi besar untuk meramaikan dunia. Ini persoalan sikap kita terhadap kebudayaan kita sendiri, dan tentang ini, ajakan saya sebaiknya kita banyak belajar pada India.[]

KOMENTAR

Zulfa Nasrulloh, pegiat dan pemerhati sastra dan seni pertunjukan. Mendirikan media alternatif Majalaya ID. Masih lajang.