Fb. In. Tw.

Merasakan Summer di Melbourne

Akhir Januari 2016, saya mengadakan perjalanan ke Australia. Catatan ini bukan tentang perasaan yang terasing ketika kali pertama menginjakan kaki di negeri kanguru. Bukan. Bukan pula tentang keadaan yang melulu membingungkan yang menjadikan cerita menarik. Ini tentang yang lain. Penyambutan pertama dari Australia adalah musim hangat yang kita kenal dengan istilah summer. Saya memang tidak begitu asing dengan summer. Di Indonesia kita mengenalnya dengan musim panas. Meski sama tapi kita tidak menyebutkan dengan summer melainkan musim panas saja. Musim yang setiap harinya bermandikan cahaya matahari.

Dua minggu sudah saya merasakan musim panas di Australia. Saya tinggal di Echuca. Sesekali berkunjung ke Rochester dan Moama. Sabtu, 13 Februari 2016 bersama beberapa teman saya menghabiskan waktu di Melbourne dan sekitarnya. Dengan suhu 33’C saya sama sekali tidak merasakan hawa panas. Pakaian yang saya kenakan tidak sampai basah karena menahan keringat. Sejak pagi hingga siang saya masih merasakan sejuk udara di sini. Apalagi ditambah dengan lemparan senyuman hangat dari warga Australia. Mereka begitu manis, baik, dan hangat. Sehangat udara summer ini.

Saya selalu bersyukur. Tidak pernah sebelumnya terbersit merasakan suasana seperti ini. Tuhan memang baik. Saya dapat merasakan summer di tempat dan suasana yang berbeda. Di Australia. Terkadang saya lupa ini di negeri orang. Rahasia alam itu begitu menggemaskan. Summer yang panas masih terasa sejuk. Tidak ada keluhan sedikitpun. Yang ada hanya rasa aneh sekaligus syukur.

Perjalanan saya ke Melbourne hari itu memang hanya untuk melepaskan sedikit penat dari pekerjaan. Juga keluar dari tempat tinggal saya yang sunyi. Saya bersama beberapa teman dari Indonesia mencoba mengobati rindu akan tanah air dengan berkumpul di pusat kota Melbourne. Hal yang menjadi menyenangkan dari kunjungan atau perjalanan singkat kami adalah aktivitas dan suasana Melbourne yang ramai. Saya yang kerap disergap kesepian, kini sejenak berdiri di tengah keramaian. Melbourne mengingatkan saya pada Bandung. Meski berbeda namun sedikit membuat rindu saya pada Bandung menjadi tawar.

Kendaraan yang ada di Melboune berupa bus dan trem. Tapi kami tak lantas menikmati Melbourne dengan menaiki kendaran tersebut. Kami berjalan kaki. Bangunan berwarna gelap elegan serupa gaya eropa klasik kami susuri. Koridor dengan daun-daun London Plane yang mirip mapel lambang bendera Kanada kami nikmati. Juga suara gagak hitam yang bertengger di beberapa tiang listrik seperti menyambut kami.

Hari menjelang siang. Saya mencari tempat yang cocok untuk beristirahat. Halaman State Library of Victoria (Pustaka Nasional Negara Bagian Victoria) menjadi pilihan. Tempatnya nyaman untuk merasakan kembali segarnya angin Melbourne. Pria bernama Sir Redmond Barry berdiri di atas prasasti di depan perpustakaan. Wajah menghadap ke kanan dan tangan kirinya menjulurkan buku. Itulah ikon State Library of Victoria. Sebuah patung berwarna hitam. Patung yang didedikasikan kepada penggagas perpustakaan yang dibangun tahun 1856.

Dari Perpustakaan Negara Bagian Victoria, saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan kembali. Kami menyusuri jembatan melayang di atas Sungai Yarra. Dari jalur pejalan kaki di tepi jembatan, kami dapat melihat Eureka Skydeck 88 Tower. Bangunan berbentuk menara setinggi 975 kaki. Letaknya di Southbank. Juga gedung surat kabar Herald Sun tampak jelas terlihat dari atas jembatan. Tempat ini salah satu destinasi yang banyak dikunjungi. Bahkan menjadi tempat terbaik untuk foto selfie.

Jembatan selesai kami lewati. Kaki terus melangkah membawa kami pada kawasan Arts Centre Melbourne. Di tempat ini, kami menyaksikan seniman memainkan tengkorak manusia yang terbuat dari kayu seukuran lengan, Tengkorak-tengkorak itu (tentu saja bukan tengkorak sebenarnya) dimainkan dengan tali-tali yang dihubungkan ke tangannya. Gerakannya sangat luwes. Jika pegunjung ingin mengambil gambar atau merekamnya harus membayar. Sejajaran dengan kawasan Arts Centre Melbourne saya melihat gedung tinggi dan klasik bernama National Gallery of Victoria. Di halaman gedung ini terdapat kolam kecil. Orang-orang melempar koin ke dalam kolam itu. Sebagian dari mereka ada yang sambil berdoa. Koin dilemparkan, doa dipanjatkan. Berharap keberuntungan datang menghampiri.

Sore merambat pelan. Sebagian kecil pelancong di Melbourne mulai bergegas kembali naik bus atau kereta listrik. Sebagian lainnya masih bermalas-malasan di kafe. Kami kembali ke Echuca, ketika senja sedang menuruni bumi.[]

KOMENTAR

Pecinta dongeng dan anak-anak. Kini aktif sebagai pegiat BIPA (Bahasa Indonesia Penutur Asing). Pernah mengajar Bahasa Indonesia dalam program Language Assistant Program (LAP) di Melbourne, Australia

You don't have permission to register