Fb. In. Tw.

[Foto] Sepanjang Hidup Meladang Kegembiraan

Nenek tua itu kembali memanen apa yang telah ia tanam selama berbulan-bulan. Sepanjang hidup dihabiskannya untuk meladang. Demi kegembiraan.

Meladang Demi Kegembiraan. (Foto: Romyan Fauzan)

Meladang Demi Kegembiraan. (Foto: Romyan Fauzan)

Dan hari itu ia bergembira bukan kepalang. Mencangkul ladang kentang mulai dari akar-akarnya, selangkah demi selangkah di antara daun yang telah jadi ilalang, hingga meruah butir-butir kentang muncul di antara ujung cangkul.

Nenek tua itu kini telah sampai pada sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Waktu yang di awal musim hanya bisa ditafsirkan oleh tanya, terjawab sudah dengan senyum yang mengembang di antara lembar-lembar uang yang sebentar lagi sampai di pelukan.

Ah, betapa gembira melihat uang segera ada di pelukan! Betapa gembira! Barangkali manusia berpikir uang adalah surga berwajah lain yang dilahirkan Tuhan atau bahkan menjadi Tuhan lain yang wajahnya nyata.

Sepertinya lelah terbayar dengan kegembiraan itu hingga lupa pada yang telah menjadi perjalanan sebenar-benarnya selama berbulan-bulan. Lupa pada hama, lupa pada penyakit daun, lupa pada obat-obat penyembuh batang yang mesti disiapkan setiap pagi, lupa pada hari-hari yang telah menjadi keringat dalam dirinya.

Ya, kegembiraan itu telah membuat nenek tua itu menjadi lupa.

Segala hal yang menjadi kegembiraan seperti satu-satunya tujuan manusia. Manusia yang lahir dan lahir terus-menerus dalam rahim waktu, detik-detik yang selalu baru, telah menjadi bagian dari orang-orang yang seperti nenek tua itu.

Sepanjang hidup menghabiskan usia untuk meladang. Sepanjang hidup adalah perihal melupakan bagaimana caranya membedakan kegembiraan dan kematian.[]

KOMENTAR
Post tags:

Penyair, aktor, dan fotografer partikelir. Pengelola Perpustakaan Rubaiyat di Cikembang, Kertasari, Kabupaten Bandung.

You don't have permission to register