
Siapa Pemilik Sekoper Uang Itu, Harimau Putih?
Kemiskinan dalam potret visual seringkali tampak indah sekaligus mengerikan. “The Vulture and The Little Girls” karya fotografer Kevin Carter yang memenangkan Pulitzer Prize tahun 1994 tersohor dalam penggambaran dikotomi makna tersebut. Begitupun pemenang penghargaan foto lainnya; korban dalam peperangan, perlawanan imigran di tapal batas negara, kerusuhan dalam situasi politik yang genting, dan seterusnya. Tak ayal, banyak orang berbondong-bondong datang ke tempat kumuh sekadar untuk menangkap makna derita dari balik rana. Salah satu tempat yang seringkali menjadi tujuan “ziarah kemiskinan” itu ialah India.
Menurut data World Economic Forum (WEF) tahun 2020, bayi yang lahir dari keluarga miskin di India butuh tujuh generasi lagi untuk sekadar mengejar rata-rata pendapatan kelas menengah India. Pemerataan pendapatan dan keadilan seperti hal yang utopis bagi 220 juta warga India yang hidup dalam garis kemiskinan dan jurang kesenjangan yang menganga.
Spirit itu cukup berhasil ditangkap dalam film The White Tiger. Dalam sebuah kutipan dialognya, Balram Halwai (Adarsh Gourav) dengan lantang meraung, “Bagi orang miskin, hanya ada dua cara untuk menuju puncak: kriminalitas atau politik.”
Dibuka oleh Balram Si Pengusaha yang menjadi narator, plot film pun kemudian mengalir. Dari sebuah ruang yang megah, gambar beralih ke sebuah kampung kumuh tempat Balram kecil yang cerdas tinggal. Di sinilah kemiskinan terasa eksotik, sekaligus tragik. Lelaki kurus yang mandi dekat sapi di kakus umum, gubuk reyot yang hanya ditutupi lembaran kain, kambing-kambing kurus, dan ragam visual lainnya.
Kejutan pertama dari film ini muncul saat Balram harus keluar kelas dan dipaksa bekerja memecahkan arang. Saat wajah Balram muram, sebuah kalimat muncul, “Kau tak suka? Bayangkan itu kepalaku yang kau pukul!”. Pedih hati dengan sepenggal kalimat itu.
Kekuatan film ini ternyata memang benar-benar terdapat pada jalinan antara dialog, narasi, dan visual yang puitis. Adaptasi dari sebuah novel sungguh terasa. Saya kira, Aravind Adiga yang menerbitkan novel dengan judul yang sama pada 2008 tidak terlalu kecewa saat melihat hasil alih wahana karyanya ke layar lebar.
Metafora Visual
Cerita dalam film ini saya kira didorong oleh dua metafora visual. Dan, keduanya berkaitan dengan binatang. Pertama, ialah sebuah harimau putih seperti judulnya. Fakta yang dipercayai ialah hanya ada satu harimau putih dari setiap generasi. Akan ada seseorang dari generasi rakyat miskin India yang berbeda, melawan nasib dengan auman dan terkaman. Menurut seorang guru dan tokoh Partai Sosialis, harimau putih itu ada dalam jiwa Balram. Perumpamaan ini selalu di-recall, cukup baik dalam menjaga suasana psiko-sosial Balram dan kaumnya sepanjang cerita.
Binatang yang muncul kedua ialah ayam jantan. Dengan visualisasi yang denotatif, Balram Si Narator bertutur, bahwa dari ribuan tahun peradaban India yang menakjubkan, hal yang paling berhasil menjadi dasar nilai kehidupan di sana ialah sebuah kandang ayam jantan. Ayam-ayam jantan di dalam kandang dapat mencium amis darah penyembelihan, dan tahu akan tiba gilirannya untuk mati. Tapi tradisi dan politik India berhasil membuat ayam-ayam itu tak berontak, tak merubuhkan kandang, atau sekadar berani berkokok secara lantang. Ayam-ayam tetap mati. Visualisasi ini juga akan terus hidup dalam alam bawah sadar Balram.
Namun, tak mudah bagi seekor harimau putih untuk menerkam lawannya. Sebelum mencium jejak lawan, Balram harus terlebih dahulu merusak kandang yang dibangun oleh keluarganya sendiri. Kemiskinan membuat keluarganya putus asa, dan memang ketimpangan sosial selalu menciptakan kondisi seperti itu. Harus selalu ada kelas bawah yang pasrah untuk diperah.
Harapan kadang muncul, ketika Partai Sosialis masuk ke Kampung, janji dalam pidato atau yang tertempel di tembok kotor. Ketua Besar Sosialis seolah mampu menghancurkan rumah megah komprador tanah, membuat tumbang pengusaha tambang. Namun, Balram tak terpikat impian dan janji utopis tersebut. Ia lebih percaya pada hal-hal taktis dalam hidupnya. Untuk keluar dari kemiskinan, ia merasa perlu cermat memanfaatkan peluang.
Film ini kemudian menggeser latarnya, dari kota ke desa. Ia akhirnya berhasil tinggal di rumah mewah milik keluarga yang menguasai lahan dan kekayaan yang terkandung di kampung halaman Balram. Di sana ia tetap menjadi ayam jantan, budak dari Tuan Tua dan Tuan Muda. Tuan Tua yang memiliki pandangan kolot dan Tuan Muda yang telah “tercerahkan” peradaban Barat. Isu dalam film pun berkembang, dari kemiskinan dan kesenjangan, kini ditambah dengan isu multikulturalisme.
Petaka
Konflik agama dan ras yang memang menjadi isu penting lain di India, berhasil digarap dengan perspektif menarik. Pandangan picik yang mempermasalahkan perbedaan identitas budaya dan agama adalah hasil dari kesenjangan sosial itu sendiri. Si Kaya membutuhkan pandangan busuk itu untuk mempertahankan kekuatan kelompoknya. Sementara Si Miskin yang putus asa menggunakan isu identitas sebagai salah satu langkah praktis meraih posisi yang nyaman. Mirip di sebuah negara dengan kode telepon +62.
Si Tuan Muda dan istrinya yang baru kembali dari Amerika, menjadi angin segar bagi Balram. Jarak komunikasi yang rendah di Amerika, membuat Balram menjadi ayam yang merasa ditimang tangan majikannya. Tapi, ternyata kedekatan dengan Tuan Muda dan istrinya itulah awal petaka cerita.
Balram terjebak dalam pilihan yang dilematis. Karena sebuah kelalaian, ia harus menerima bahwa Tuan Tua telah memilihnya untuk menjadi tumbal. Ia sempat terpikir untuk kabur, tetapi kampung halaman selalu meminta uangnya untuk pulang. Dalam keadaan terjebak, ia linglung. Hampir hilang pengharapan. Kosong seperti botol saat air beralkohol yang telah habis ia tenggak. Masa depan indah yang ia bayangkan kini seperti kotoran yang dikeluarkan seorang kakek tua di atas tumpukan sampah yang tak jauh dari tempatnya bekerja. Joget dan lagu India pun juga hadir dalam kondisi ini. Sebuah nyanyian yang terdengar sebagai rintihan, sebuah tarian yang terlihat sebagai getar tubuh karena kesedihan.
Harapan mulai muncul ketika istri Tuan Muda membisikkan kata-kata mantra, bahwa Balram terlalu lama mencari kunci, padahal pintu sudah lama terbuka. Ia pun mulai belajar masuk ke dalam celah-celah pintu yang terbuka. Di antara banyak pintu kesempatan, Balram akhirnya sangat terpikat dan berambisi pada setumpuk uang di dalam tas besar berwarna merah. Tas merah berisi uang yang dibawa Tuan Muda dari satu gedung ke gedung lain. Mulai dari politisi, pejabat pemerintahan, hingga akhirnya jumlahnya bertambah kali lipat saat akan dibawa kepada rumah Sang Pemimpin Besar Partai Sosialis.
Kebimbangan sangat apik dicitrakan dalam gambar-gambar. Di tengah kegamangan, Balram berjalan ke sebuah stasiun untuk memastikan sebuah rencana. Kamera menyorot close up seekor burung merpati yang terbang dari atap peron stasiun, seekor anjing yang berlari, dan tubuh kereta. Seolah semuanya mengetahui: akan ada seekor macan putih yang meraung, akan ada ayam jantan yang memberontak.
Pilihannya untuk mengubah nasib buruk yang telah melekat semenjak ia lahir—nasib yang butuh tujuh generasi untuk diubah—semakin bulat saat ia berada di sebuah lampu merah. Sebuah tangan mengetuk jendela mobil yang dikendarai oleh Balram. Ternyata itulah Bapaknya. Seorang Bapak yang selalu mengangkut arang dengan susah payah untuk kemudian dipecah dan dibakar. Seorang Bapak yang meninggal karena busuknya kemiskinan dan buruknya pelayanan kesehatan. Bapaknya meyakinkan, uang dalam tas merah itu, adalah miliknya.
Keunggulan dan Kelemahan
Keunggulan yang paling saya rasakan, sebagai penikmat produk komunikasi perubahan sosial, ialah bahwa film ini tidak terjebak dalam narasi besar. Meski mengangkat tema yang cukup serius soal segregasi antar-kelas dan perjuangan kaum proletar, alur cerita ini tidak menghadirkan narasi kaku nan dogmatis; proletar lawan borjuis, aktivis lawan komprador, dan seterusnya. Film ini dengan apik selalu menangkap gejolak emosi di hati Balram yang selalu menyala. Jiwa tertindas dan keinginan untuk melawannya saya kira akan turut menyulut hati para penontonnya. Bahwa ketidak-adilan memang semestinya dilawan.
Mike Wayne dalam tulisannya berjudul Marxism Goes to Movies, menjelaskan bahwa film yang memiliki cerita pertentangan kelas selalu coba dihadirkan ke dalam diskursus film global. Mulai dari cerita yang kasar (propagandis), cerita yang halus (naratif), hingga masuk ke dalam strategi produksi dan distribusi film yang berbeda dengan Hollywood. Film White Tiger ini, saya kira berhasil lolos dari apa yang dikatakan Vladimir Lenin, bahwa film adalah bagian terpenting dari propaganda Marxisme, yang terdengar seperti tak menggairahkan. Jika mengutip kalimat dalam Marxism Cinema & Cinema: Daniel Fair Fax, film The White Tiger, media film yang berdasarkan pada gambar mempunyai kecenderungan dalam memperkuat ideologis dengan menciptakan sensasi yang tak tertandingi pada penonton dengan gambar bergerak di layar ialah cerminan realitas yang ingin diwakili.
Kelemahan film ini justru terletak pada bagian akhir yang seharusnya menjadi puncak cerita. Film ini ditutup dengan cukup sembrono. Bentuknya menjadi mirip iklan atau film pendek motivasi yang berjalan dengan tempo cepat dan alur yang terpotong.
The White Tiger yang tampil dengan poster sangat pop itu memang cocok dengan kehidupan saat ini, termasuk Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik terbaru, kesenjangan atau gini rasio di Indonesia melonjak dari 0,381 pada Maret 2020 menjadi 0,385 pada September 2020.
Mungkinkah ada Balram dalam kehidupan nyata sekitar kita? Sebab kita patut bertanya-tanya seperti Balram, siapakah pemilik sebenarnya dari sekoper uang itu? Kekayaan yang mereka nikmati itu?
Film ini mengajak kita untuk menjadi manusia yang sadar. Tidak terjebak mistifikasi. Seperti apa yang dikatakan Buddha dan dikutip dalam film ini:
“Tuan, apakah kau menganggap dirimu Tuan atau Tuhan?”
“Bukan keduanya, aku hanya orang yang terbangun saat yang lain tertidur”.