Puisi-Puisi Reky Arfal
Baserah
jejak-jejak pada liat tanah itu
adalah keriangan yang menggeliat ke udara
ketika hujan tinggal rinai, dan jalanan mulai ramai
di simpang tugu proklamasi
perempuan menjinjing payung
menuju pasar usang
lelaki memenuhi lepau-lepau
memasuki kedai-kedai cukur rambut
sambil mengepulkan asap niko
menggaruk-garuk rambut kepalanya
yang rontok dan dipenuhi ketombe
Pekanbaru, 2018
Pulau Busuk
pulau busuk tak punya masa lalu, atau
selaiknya tak punya. telah dihapus semua
oleh angin pulau. nyiur menuguri tanjung
menegur yang galau, limbung menghidu ini kampung
sejatinya, ini kampung adalah potret masa silam
terbingkai dalam perasaan yang lara
dalam kepala nini-nini yang trauma
ditinggalkan, penuh lamunan,
hanya sadar apabila diarak tuak
nini-nini yang berkata
bunga di taman selalu merah
disepah wangi darah
seratus sekian tahun yang lalu:
kuantan masih memantulkan
pasangan bercinta di kompang
dan ini tempat belum bernama
Pekanbaru, 2018
Mengobat Kampung
lihat batang air itu, ada banyak bercak puisi
mengalir seperti busa bekas basuhan cucian
perempuan-perempuan tak beralas kaki
menumpang mandi, dan bayangkan
sepotong es meluputkan berahi
bayangkan hari pelan berjalan
ke ulak, melawan arus yang kencang
ke ulak, mencari cara pulang
menjinjing angkung, melalui hutan sawit
menakik getah karet, menyeret realitas yang lemas
mengembalikan yang hilang, yang semestinya hilang
konon, ketika datang malam
datang pula orang-orang itu
menziarahi dusun-dusun
melengkapi pencahayaan kampung
ketika mata merabai kompang yang lempung
disesaki pengunjung
orang-orang dusun yang resah lantas berlindung di balik
kitab-kitab, kopiah, kisah-kisah
mencanangkan hari buruk, yang telanjur teruk
sebuah hikayat lama kembali tersiar
selalu terdengar kecipak air pada jam-jam tertentu
itu mimpi, mungkin seseorang ingin mengunjungi
lalu pada jam-jam lain, pada pertukaran cahaya
surau-surau tua mengaji, dan kambing-kambing
mendengkurkan vibra
pada jam-jam tertentu, selalu ada kejutan yang lekas jadi biasa
Pekanbaru, 2018
Belajar Mengenang
kami lahir dengan napas yang panjang
kaki yang lentur, tubuh yang tipis
dengan sedikit bau amis
kami lahir dan besar oleh riak udara
kecut yang menajamkan hidung kami
mata kami terbuat dari kelereng
yang dijual orang-orang di tanah seberang
dengan sedikit sentuhan, mungkin
kami akan jadi kalian
yang kerap bersunyi-sunyi dari keramaian
seperti genangan kecil di kubang jalan
Pekanbaru, 2018
Setelah Kulupakan Namamu
lampu sudah dimatikan. pintu telah tertutup rapat
dalam 21 langkah lagi akan kutinggalkan semua
kutinggalkan dapur yang berantakan dan dipenuhi
sisa genangan banjir semalam. kutinggalkan surau tua
yang cukup lapang untuk mengaji diri sendiri
tapi hendak ke mana ini langkah bernaung
sedang pada tapaknya masih jelas sisa kabung
masih pada kehampaan ia bergaung
dan kerelaan tak sempat ditabung
sehingga kepadamu jua aku kembali
kepadamu jua langkahku menepi
dan wajahku, juga langit malam ini
saling memunggungi
Pekanbaru, 2017

