Fb. In. Tw.

Arsitektur, Hujan, dan Alternatif Tata Ruang

Catatan Festival Arsitektur Parahyangan 2016
Hujan deras yang mengguyur sekitar kota Bandung, sempat mengganggu jalannya acara Festival Arsitektur Parahyangan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Sabtu (21/05/16). Namun hal ini tak lantas mengendurkan semangat acara, pengunjung, juga panitia.

Sempat beberapa kali terhenti, festival yang mengusung tema Compact Architecture: Reorienting Urban Growth ini tak kehilangan gairahnya. Ketika hujan menderas sekitar pukul enam petang, acara diramaikan oleh pertunjukan parkour yang sangat menarik dari Komunitas Parkour Bandung. Begitu hujan reda acara kembali dilanjutkan dengan penampilan guest stars yang membuat suasana dan acara kembali “pecah”.

Tema Compact Architecture: Reorienting Urban Growth ini diangkat mengacu pada permasalahan yang dihadapi tata ruang perkotaan di mana lahan hijau dan ruang semakin menyempit juga dampak yang muncul karenanya, yakni kemacetan, lingkungan yang kumuh, kepadatan yang tidak teratur.

Tema ini mengusung wacana penggunaan arsitektur vertikal, yakni konsep alternatif pembangunan gedung dan tata ruang yang naik. Maksudnya adalah untuk menyiasati ruang yang semakin sempit sedangkan pertumbuhan perkembangan masyarakat yang semakin tidak terkontrol, maka pembangunan kota mesti dinaikan, artinya gedung-gedung dan bangunan menggunakan lahan yang sedikit namun dapat dibangun menjadi tinggi. Sehingga kedepannya pembangunan menjadi lebih efektif dan tidak akan mengganggu ruang dan lahan hijau yang tersisa, serta dipercayai dapat mengurangi permasalahan-permasalahan yang terjadi saat ini.

Selain menawarkan konsep tata ruang yang dapat menjadi pemecahan atas permasalahan pertumbuhan masyarakat, festival ini pun dikemas secara menarik. Pada entrance gate anda langsung disuguhi seperangkat instalasi yang memanjakan mata. Sebuah rancang bangun kubus yang terbuat dari jaring kawat dan tiang-tiang yang pada ujungnya dipasangkan bola lampu seolah mengucapkan ”selamat datang” kepada setiap pengunjung yang baru saja datang.

Selanjutnya pengunjung yang datang akan melewati instalasi sebuah ruang yang dapat dikatakan menyerupai rumah dan kemudian sebuah lorong gelap dengan lampu berkelip-kelip di setiap sisinya. Lorong ini menjadi gambaran keadaan perkotaan masa kini yang semakin sempit dan kehabisan begitu banyak ruang untuk bergerak. Menjadi semakin kontras, penyempitan lahan dan ruang tersebut digambarkan dengan menggunakan kubus-kubus dari jarring kawat dan seng yang diletakan hampir sembarang.

Selain disuguhi instalasi yang menjadi kritik tersendiri terhadap pertumbuhan masyarakat, pengunjung juga disuguhi instalasi yang sekaligus menjadi ruang pameran fotografi arsitektur, drawing arsitektural kota, juga desain arsitektur untuk ruang hijau kota.

Foto-foto yang disuguhkan pada pameran foto ini menjadi kritik yang cukup pedas karena menampilkan berbagai macam permasalah tata ruang dan akibat yang dialami karenanya. Banjir menjadi fokus besar pada hampir semua foto yang dipamerkan sebagai akibat dari pemasalahan tata ruang yang terjadi sekarang. Kemudian pada bagian pameran fotografi di sisi lainnya, memotret bangunan dan tata ruang perkotaan.

Pada bagian pameran drawing, disuguhkan berbagai macam drawing tata ruang kota dan arsitektur klasik yang masuk ke dalam kategori historical preservation. Selain itu juga ada penggambaran keadaan kota yang terjadi saat ini dan berbagai macam tempat yang mengandung nilai sejarah pada bangunan dan tempatnya.

Pada bagian pameran desain untuk ruang hijau kota, ditampilkan beberapa desain ruang hijau atau taman yang tak hanya bisa dijadikan tempat “nongkrong dan selfie” saja, namun dapat memberi manfaat lebih terhadap lingkungan perkotaan. Dalam hal ini, misal sebagai ruang resap air.

Memasuki area utama festival, pengunjung akan dihibur oleh pertunjukan music dari guest stars pada sebuah panggung megah dengan latar videomapping oleh Uvisual yang semakin menambah daya tarik acara ini. Beberapa guest stars yang menghibur pengunjung diantaranya Salty Sugar, Sajama Cut, RumahSakit, Dried Cassava, Komunal, dan masih banyak lainnya. Pertunjukan music sendiri dimulai sejak pukul empat sore sampai selesainya acara, yakni tengah malam.

Bagi pengunjung yang merasa lapar ketika acara sedang berlangsung juga disediakan bazaar kuliner dari berbagai pengusaha kuliner yang berada di kota Bandung. Mulai dari makanan ringan atau cemilan hingga makanan berat atau makanan utama. Juga kopi dan berbagai minuman lainnya.

Kemudian yang menjadi daya tarik paling besar dalam acara ini adalah dua buah instalasi di samping kiri dan kanan depan panggung. Instalasi yang merepresentasikan konsep arsitektur vertikal ini dibangun dari rangka besi dan keranjang bekas minuman ringan dalam botol kaca. Dirangkai sedemikian rupa mewakili konsep pembangunan yang naik dan meninggi bukan melebar ini dilengkapi beberapa lampu neon sehingga ketika malam tiba, menambah daya tarik pengunjung festival tersebut. Banyak pengunjung yang mengambil foto pada instalasi kota/bangunan tersebut, mulai dari selfie hingga foto bersama.

Semakin malam, acara semakin “pecah” dengan penampilan atraktif dari beberapa guest stars. Pengunjung yang menikmati pameran dan pertunjukan musik serta bazaar kuliner yang telah disediakan semakin ramai memadati area sekitar Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat.

“Kesimpulannya, Compact Architecture ini hadir dan diharapkan sebagai alternatif pemecahan masalah perkotaan yang terjadi saat ini, misal kemacetan, banjir, penyempitan lahan dan ruang hijau kota, serta berbagai masalah lingkungan lainnya,” ujar MC menyimpulkan acara tersebut.

Besar harapan mengenai terselesaikannya permasalahan tata ruang kota juga akibat-akibat yang ditimbulkan karenanya. Hal inilah yang pada akhirnya menjadi spirit diselenggarakannya Festival Arsitektur Parahyangan 2016 yang begitu “pecah” ini.[]

KOMENTAR

Rajin menulis puisi dan memotret. Pendiri Rhapsody Photoworks. Masih lajang.

You don't have permission to register